Mbokdhe Karak
Oleh: Dwi Ramlan Kurniawan

Pagi buta terdengar suara ayam berkokok dengar merdu yang dapat membangunkan orang yang sedang tertidur dengan lelap, sedangkan sang mentari pagi belum menampakkan cahayanya yang setiap pagi senantiasa tanpa lelah menyinari bumi yang panas, gersang dan penuh polusi dari kendaraan-kendaraan bermotor. Udara pagi yang masih dingin dan menusuk tulang ini ada seorang wanita setengah baya yang usianya sekitar 50-an tahun sudah bangun dari tidur lelapnya, terdengar dari bilik bambu yaitu suara mbokdhe karak biasa wanita setengag baya itu dipanggil, mbokdhe karak sudah bangun dan membereskan tempat tidurnya semalam.

Suara adzan subuh mulai terdengar dari masjid dekat mbokdhe karak itu tinggal, dia pun bergegas untuk bersiap-siap untuk menunaikan kewajiban seorang muslim yaitu melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid, tetapi sebelum dia pergi ke masjid mbokdhe karak biasa melakukan sholat sunah dua rekaat sebelum sholat subuh yaitu sholat fajar yang faedahnya melebihi seisi dunia ini, setelah mbokdhe karak selesai menunaikan sholat fajar dia langsung bergegas menuju ke masjid karena sudah terdengar suara iqomah.
Sepupulangnya dari masjid mbokdhe karak pulang kembali ke rumahnya untuk menjalankan rutinitasnya seperti biasa, yaitu memasak nasi untuk dijadikan gendar(jawa) yang kemudian dijadikan karak . karak adalah makanan sejenis kerupuk yang terbuat dari nasi yang diberi obat atau ragi. Mbokdhe karak dibantu oleh suaminya yang bernama mbah marimo mereka berdua saling bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaannya itu. Walaupun mereka berdua sering cek-cok karena masalah sepele.
Sangmentari pagi sudah menampakkan sinarnya di ufuk timur tetapi ccahaya mentari terhalang oleh gunung Lawu sehingga membuat pemandangan yang menakjubkan yang tampak sinar mentari seakan seperti pedang yang membelah gunung. Lama-kelamaan udara yang tadinya dingin hingga menusuk tulang sekarang sedikit demi sedikit sudah mulai terasa hangat karena cahaya mentari pagi sudah mulai menghangatkan tubuh.
Mbokdhe karak sedang mempersiapkan sarapan buat anak-anaknya yang akan melakukan aktivitas, seperti kerja dan keponakan yag akan berangkat kulia, sementara mbokdhe karak sedang mempersiapkan sarapan buat anak dan keponakannya suaminya masih sibuk melakukan pekerjaannya yaitu membuat gendar untuk dijadikan karak.
Hari pun mulai siang dan sang mentari beranjak naik kemudian mbokdhe karak mempunyai pekerjaan yang lain yaitu mengolah gendar menjadi karak dengan cara mmengiris gendar yang masih tercetak menjadi tipis-tipis yang kemudian dijemmur diteriknya mentari. Pisau besar sudah ditangan mbokdhe karak, kemudian mbokdhe karak pun siap untuk melakukan kegiatan mengiris gendar iti, layaknya seorang pejuang yang berada di medan peperangan pada masa penjajahan Jepang
Keringat mengucur deras bagaikan seorang yang sedang mandi tetapi ini bedanya mandi keringat bukan mandi air yang mengucur diseluruh tubuh suami mbokdhe karak, suami istri ini adalah seorang yang pekerja keras. Mereka membanting tulang dan memeras keringat hanya untuk anak-anaknya.
Mbokdhe karak dibantu oleh keponakannya dan anaknya, dalam menjalankan pekerjaannya ini. Setelah pekerjaannya mengiris gendar ini selesai mbokdhe karak dan suaminya tidak lantas bisa istirahat tetapi mereka harusmenjemur karak yang akan digorengkemudian akan dibawa oleh para penjual keliling. Sekarang mbokdhe karak sudah mempunyai industri rumahan (home industry) karak yang berada di rumahnya kalau dulu mbokdhe karak yang menjual keliling sampai pasar Nusukan, Solo. Hanya dengan berjalan kaki mbokdhe karak menelusuri Kota Solo untuk mencari nafkah buat anak-anaknya.
Mbokdhe karak adalah wanita yang sangat kuat karena dia bisa menjalani hidup yang berat ini, dia rela berjalan puluhan kilometer dengan beban yang berada dipundaknya. Itulah pengorbanan orang tua untuk anak-anaknya.
Originally by: D.R Kurniawan