hak-hak wanita muslimah dari suami

Leave a comment

Sesungguhnya Islam adalah agama yang adil, mulia dan menyamakan hak. Islam telah menjamin hak para wanita, sebagaimana dia menetapkan padanya beberapa kewajiban. Dan Allah telah ‘Azza Wajalla telah menentukan bagi suami dan istri hak dan kewajiban masing-masing.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman : More

DIAMLAH SAAT KHUTBAH JUM’AT

Leave a comment

Diamlah Ketika Khutbah Jum’at!

Bahasan berikut adalah bahasan yang bermanfaat bagi setiap orang yang akan menjalani ibadah Jum’at. Ada adab yang mesti diperhatikan kala itu, yaitu hendaklah jama’ah benar-benar memperhatikan khutbah dan diam agar ibadah Jum’atnya mendapatkan manfaat dan tidak jadi sia-sia.

Dalam hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

“Barangsiapa yang berwudhu, lalu memperbagus wudhunya kemudian ia mendatangi (shalat) Jum’at, kemudian (di saat khutbah) ia betul-betul mendengarkan dan diam, maka dosanya antara Jum’at saat ini dan Jum’at sebelumnya ditambah tiga hari akan diampuni. Dan barangsiapa yang bermain-main dengan tongkat, maka ia benar-benar melakukan hal yang batil (lagi tercela) ” (HR. Muslim no. 857)
More

SANG PENCERAH

5 Comments

Sang Pencerah

[http://pencerah.blogspot.com] Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk membahas blog pencerah bertajuk Kata Hati ini, tetapi sebuah ulasan tentang film yang menceritakan salah satu tokoh terbesar di Indonesia yaitu KH Ahmad Dahlan seorang ulama pendiri Muhammadiyah. Banyak sumber sejarah menyatakan bahwa KH Ahmad Dahlan lah yang sebenarnya lebih layak disebut bapak pendidikan, karena beliau lebih dulu memberikan kesempatan ‘sekolah’ pada rakyat kecil.dari pada Ki Hajar Dewantara
More

5 kebersihan kaum muslimin

Leave a comment

Semua orang pasti cinta kebersihan dan kesucian sampai ada ungkapan “kebesihan pangkal kesehatan”. Kebersihan dan kesucian amatlah diperhatikan oleh Islam baik pada batin maupun lahiriah seseorang. Namun tentunya harus sesuai batasan Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Jangan keterlaluan dalam menjaga kebersihan sampai keluar dari ketaatan, seperti orang yang tak mau shalat di masjid yang tak beralas karpet dengan alasan menjaga kebersihan, padahal masjidnya tak bernajis!! Jangan pula teledor dalam menjaga kebersihan sampai melanggar batas, seperti sebagian supir mobil yang suka kencing berdiri di sembarang tempat, lalu shalat, padahal badan atau pakaiannya terkena najis kencing!!!
More

SHALAT

1 Comment

Keutamaan Shalat

Banyak hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan shalat, diantaranya sebagai berikut:

Ketika Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam ditanya tentang amal yang paling utama, beliau menjawab: “Shalat pada waktunya”. (Muttafaq ‘alaih);
Sabda Rasulullahshallallaahu alaihi wasallam : “Tidak ada seorang muslim yang ketika shalat fardhu telah tiba kemudian dia berwudhu’ dengan baik dan memperbagus kekhusyu’annya dalam shalat serta ruku’nya, terkecuali hal itu merupakan penghapus dosanya yang telah lalu selama dia tidak melakukan dosa besar, dan hal itu berlaku sepanjang tahun itu.” (HR. Muslim);
Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam: “Pokok segala perkara itu adalah Al-Islam dan tonggak Islam itu adalah shalat, dan puncak Islam itu adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih)
More

FILSAFAT HIDUP RASULULLAH

Leave a comment

FILSAFAT HIDUP RASULULLAH

Saudara-saudara pembaca yang berbahagia. Marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Dengan pengertian taqwa yang sebenar-benarnya dan seluas-luasnya, yakni melaksanakan segala perintah Allah SWT, dan meninggalkan segala larangan-larangan-Nya.
Seorang muslim yang sejati adalah apabila ia telah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai idola dalam hidupnya. Kita ikuti sikap dan tindak-tanduknya, demikian pula filsafat hidupnya harus diteladani.
Bagaimana filsafat hidup Rasulullah? Filsafat hidup adalah hal yang abstrak, yakni bagaimana seseorang memandang suatu persoalan hidup, cara memecahkan atau menyelesaikannya. Ada beberapa filsafat hidup yang dianut oleh manusia:
1. Pertama : Dalam hidup ini yang penting perut kenyang dan badan sehat.
2. Kedua : Dalam hidup ini mengikuti ke mana arah angin berhembus, angin berhembus ke Timur, ikut ke Timur, angin berhembus ke Barat, ikut ke Barat, suapaya selamat dan mendapatkan apa yang diinginkan.
3. Ketiga : Dalam hidup ini yang penting “GUE SENENG” masa bodoh dengan urusan orang lain.
4. Keempat : Dalam hidup ini harus baik di dunia dan baik di akhirat.
Sebagai muslim sudah selayaknya kita berfilsafat sebagaimana filsafat hidup Rasulullah SAW.
More

jalan menuju ke langit

1 Comment

Bahasa sehari-hari mengenal istilah; Allah SWT yang di atas, atau Allah SWT yang di langit. Langit sering didefinisikan sebagai batas pandangan mata. Dalam Al Qur’an langit disebut dengan nama sawa’ atau samawat. Dalam bahasa Arab, sama’ mengandung dua arti, pertama : ma’ala ka, apa yang di atasmu. Dari pengertian ini maka plafon di rumah kita disebut langit-langit. Kedua : langit adalah ungkapan tentang sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal manusia.

Jika disebut surga berada di langit artinya akal manusia tidak akan mampu melacak keberadaannya. Surga dapat dilacak dengan keyakinan atau iman, bukan dengan ratio. Bahasa sehari-hari juga suka menggunakan istilah langit meski kurang tepat, misalnya menyebut kecantikan luar biasa dari seorang gadis dengan menyebut cantiknya selangit, kekayaan yang sangat banyak disebut kayanya selangit, dan ungkapan semisal lainnya.

Orang beriman meyakini bahwa di balik alam raya ini ada alam langit atau ‘alam malakut satu “tempat” yang sangat tinggi dimana blue print alam raya dengan segala kehidupannya itu berada dan dikendalikan, dan Allah bersemayam di ‘arasy-Nya mengendalikan kekuasaannya melalui sistem sunnatullah, dan Dia mengontrol secara detail hingga jatuhnya selembar daun pun berada dalam kontrol-Nya.

Di mana letak alam malakut dan dimana ‘arasy Allah SWT, akal manusia tidak mungkin menjangkaunya, karena Allah Maha Tinggi sedangkan manusia sebagai hamba memiliki keterbatasan yang sangat banyak. Meski demikian, dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya Allah memberi infrastruktur kepada manusia untuk dapat mendekat kepada-Nya. Allah menempatkan sifat ilahiah pada setiap manusia, apa yang dalam agama disebut nasut.

Allah juga menempatkan cahaya (nur)-Nya pada setiap hati (qalb) manusia, disebut nuraniyyun (hati nurani) yang memiliki kapasitas pandangan batin sebagai lawan dari pandangan mata kepada, oleh Al Qur’an disebut bashirah. Allah SWT berfirman : “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya”. (QS. Al Qiyaamah : 14 – 15) Jika sifat Allah SWT al Bashir mengandung arti Allah SWT mampu melihat sesuatu secara total tanpa alat bantu, maka bashirah-nya manusia atau hati nurani manusia juga dapat menembus dinding-dinding pembatas, secara internal melihat diri sendiri, introspeksi secara jujur dan hati nurani tidak bisa diajak berdusta, sedangkan secara ekternal, hati nurani dapat menerobos ke alam malakut (bercengkerama dengan ruhaniyyun (malaikat atau arwah manusia) dan bahkan bisa bercengkerama dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Di alam malakut, manusia bisa berjumpa dengan arwah manusia yang telah lama meninggal, dan jika beruntung bisa berjumpa dengan Nabi.

Dengan sifat Nasut itulah manusia pada suatu ketika rindu kepada Allah SWT. Sifat nasut itu bagaikan api yang selalu menyala ke atas. Orang yang sedang rindu kepada Allah SWT, maka pandangannya selalu ke “atas” mencari Dia Yang Maha Tinggi di “alam atas”. Kerinduan kepada Allah SWT itu memuncak ketika seseorang berhasil bekerja keras mensucikan jiwanya (tazkiyyat an nafs) hingga jiwanya mencapai tingkat nafs al muthma’innah, yaitu jiwa yang tenang, atau ketika Allah SWT berkenan mendekati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya sehingga orang itu dalam waktu cepat tersucikan jiwanya. Allah SWT berfirman : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikit pun” (QS. An Nisaa : 49).

Di sisi lain, Allah SWT memiliki sifat kemanusiaan (lahut) yang selalu merindukan kehadiran manusia ke haribaan rahmat-Nya. Allah SWT sangat antusias menyongsongnya dengan berlari. Itulah yang menyebabkan ada orang sejak kecil menjadi muslim tetapi tak kunjung berkualitas, sementara ada orang yang belum lama menjadi “mu’allaf” tetapi sudah mencapai pencerahan spiritualitas, karena ia disongsong oleh Allah SWT. Di satu pihak, manusia memang memiliki bakat kerinduan kepada Allah SWT dan untuk itu ia berusaha naik ke “atas” (taraqqi), di pihak lain, Allah SWT yang merindukan kehadiran manusia berlari turun dari “atas” (tanazul) menyongsong setiap hambanya yang berusaha keras mendekat (taqarrub). Ada tiga jalan yang bisa ditempuh manusia untuk mendekat kepada-Nya.

Pertama :Thariqah as Syar’iy, jalan syar’i. Siapa saja yang berusaha keras secara konsisten mengikuti syari’at, shalatnya, puasanya, berdagangnya, berpolitiknya, maka dijamin ujungnya adalah dar al muqarrabin, wisma khusus orang-orang dekat. Siapa saja yang secara konsisten mengikuti petunjuk Allah SWT dalam hidupnya, yakni mengikuti aturan Allah SWT tentang halal-haram, mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka ia berpeluang untuk menjadi orang dekat-Nya.

Kedua : Thariqah ahl az zikr, Jalannya ahli zikir. Barang siapa yang dalam hidupnya selalu berzikir maka ia akan sampai ke tingkat dekat dengan Allah. Zikir artinya menyebut atau mengingat. Orang awam berzikir dengan mulutnya dalam bentuk menyebut asma Allah atau kalimah thayyibah, meski hatinya belum tentu ingat Allah. Lihatlah orang yang ikut zikir bersama Arifin Ilham, ia bisa menangis haru, instrospeksi, dikerjakan secara sistemik, maka lama-kelamaan hatinya menjadi dekat dengan Allah SWT yang selalu disebutnya. Sementara orang khawas, berzikir dengan hatinya. Keadaan apa pun yang dihadapinya dalam hidup, hatinya tetap mengingat Allah. Ada beberapa tingkatan zikir, yaitu zikir jahr, zikir keras-keras, kemudian meningkat menjadi zikir khofiy, zikir yang tidak mengeluarkan suara tetapi penuh di dalam hati, kemudian tafakkur, berkelana secara ruhaniyyah merenungkan kebesaran Allah, dan yang tertinggi adalah tadabbur, yakni melihat benda atau alam pun langsung terbayang Sang Pencipta (tadabbur ‘alam).

Ketiga : Thariqah mujahidah as Syaqa, memilih jalan yang sulit. Bagi penganut jalan ini, hidup secara biasa itu berarti tidak tahu diri dan kurang bersyukur kepada Allah SWT. Ia wajibkan dirinya mengerjakan yang sunnah, ia haramkan untuk dirinya apa yang sesungguhnya halal, semata-mata karena tahu diri. Ia lebih suka tidur di lantai, meski memiliki kasur, ia memakan makanan yang tidak enak meski tersedia makanan lezat, pokoknya semua yang sulit menjadi pilihannya. Baginya menempuh kexulitan dalam perjalanan mendekat kepada Allah SWT itu satu kenikmatan, dan baginya pula, menggunakan fasilitas kemudahan dalam perjalanan kepada Allah SWT itu memalukan

Wallahu a’lam bish shawab ***

Dikutip dari : Buletin Jum’at Al Bina Edisi 23, 19 Jumadil Tsaniyah 1430 H / 12 Juni 2009 M

Older Entries