Pendahuluan
Manusia dalam kehidupannya selalu berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya. Untuk itu, dia selalu berusaha untuk mengerti.
Untuk dapat mengerti, diperlukan ilmu. Sesuatu yang mempunyai sifat ilmiah. Menurut I.R. Poedjawijatna (2005), “Sifat ilmiah sebuah ilmu itu ialah dengan sadar menuntut kebenaran, bermetode, dan bersistem.”
Untuk mengetahui suatu sebab sedalam-dalamnya, menurut I.R. Peodjawijatna, manusia didasari atas cinta dan kebijaksanaan. Ini sesuai dengan kecenderungan manusia untuk mengerti. Untuk mengerti mengapa sesuatu dalam kehidupan itu terjadi, dibutuhkan filsafat.
Dengan kata lain, menurutnya, filsafat itu ilmu tentang segala sesuatu yang menyelidiki keterangan atau sebab sedalam-dalamnya.
Dengan demikian, filsafat dan ilmu berusaha menyelidiki segala sesuatu untuk dicari keadaannya. Lapangan penyelidikannya adalah segala sesuatu, segala yang ada dan mungkin ada.
Objek materi filsafat ialah ada dan mungkin ada. Sementara objek formanya adalah mencari sedalam-dalamnya. Objek materinya, tentu saja sama dengan ilmu, ada dan mungkin ada. Tetapi, ilmu sendiri membatasi pada pengalaman.
Karenanya, filsafat sering disebut juga metafisika. Ilmu yang mengatasi segala fisika yang tidak membatasi pada pengalaman. Berdasarkan pengertian tersebut, menurut Berling (2000), dalam kehidupannya manusia tidak hanya menyelesaikan masalah berdasarkan pengalaman tetapi juga berdasarkan penjabaran-penjabaran (deduksi).
Lalu dikembangkanlah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Disebut filsafat ilmu. Dengan kata lain, menurut Berling, filsafat ilmu sesungguhnya merupakan suatu penyelidikan lanjutan. Apabila para penyelenggara pelbagai ilmu melakukan penyelidikan terhadap objek-objek serta masalah-masalah yang berjenis khusus dari masing-masing ilmu itu maka orang pun dapat melakukan penyelidikan lanjutan terhadap kegiatan-kegiatan ilmiah itu. Dan memang lah filsafat ilmu merupakan suatu bentuk pemikiran secara mendalam yang bersifat lanjutan (secondary reflexion).
Karenanya, kemudian lahirlah aliran dalam filsafat ilmu itu bahwa penyelesaian masalah yang dihadapi manusia didasarkan pengalaman (empirisme). Namun, bisa juga dengan membuktikannya berdasarkan dalil-dalil yang sudah ditemukan (deduktif).
Berdasarkan ini, kemudian lahirlah aliran ilmu-ilmu empiris dan deduktif. Dalam filsafat, ini digunakan untuk mencari kebenaran berdasarkan prinsip ilmiah sedalam-dalamnya atas dasar cinta dan untuk kebijaksanaan.
Dalam makalah ini, kami mencoba memaparkan pemikiran dan aliran yang ada dalam ilmu deduktif dan empiris serta ilmu-ilmu yang termasuk dalam masing-masing kategori.

Aliran Deduktif
Aliran ilmu-ilmu deduktif berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi manusia tidak berdasarkan pengalaman seperti halnya ilmu empiris. Melainkan berdasarkan deduksi-deduksi (penjabaran-penjabaran).
Menurut Berling, deduksi adalah penalaran yang sesuai dengan hukum-hukum serta aturan-aturan logika formal. Tidak mungkin titik tolak yang benar menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak benar. Pembuktian kebenaran itu dilakukan dengan penjabaran dalil-dalil yang sudah diperoleh sebelumnya, begitu seterusnya. Ilmu deduktif ialah ilmu-ilmu matematika. Ilmu yang mengacu pada proses penajabaran kebenaran itu. Ada tiga aliran dalam ilmu deduktif ini, yakni logisme, formalisme, intuitisme

Logisme
Logisme diajarkan oleh Frege dan Russel (1848-1925). Jumlah gagasan pokok yang mendasarinya dan perkembangan pesat, ketika logika digunakan dalam penyelidikan azas-azas matematika. Menurut pendirian aliran ini saham yang diberikan oleh logika dalam matematika dipandang mencapai jumlah yang sebesar-besarnya. Orang tidak hanya berpendapat bahwa pembuktian-pembuktian matematik menurut menurut hukum-hukum serta aturan logika, melainkan diusahakan agar suku-suku saja serta aksioma-aksioma teori-teori matematika disamakan sepenuhnya dengan ungkapan-ungkapan logik atau dalil-dalil logika.
Menurut Frege dalam Suariasumantri (2007), matematika merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris.
Dengan demikian, matematika murni merupakan cabang dari logika. Frege mengembangkan hukum bilangan (the law of number) yang dapat direduksi ke dalam proposisi-proposisi logika. Begitu juga Russel dan Whitehead dalam bukunya Principia Mathematica, menyatakan bahwa matematika seluruhnya dapat direduksi ke dalam proposisi logika.
Sebelumnya Imanuel Kant (1724-1804) juga berpendapat bahwa matematika merupakan pengetahuan yang bersifat sintetik a priori dimana eksistensi matematika bergantung dari pancaindera (ini kemudian dikembangkan oleh aliran intuisionis).

Formalisme
Aliran ini biasanya dihubungkan dengan nama Hilbert (1862-1943). Para pengikut aliran ini menyelidiki akibat-akibat formalisasi. Teori-teori matematika dipandang sebgai larikan-larikan rumus yang susul-menyusul, menurut hukum-hukum tertentu. Semenjak kurang tahun 1900, telah ditemukan sejumlah paradoks logik serta matematika. Berdasarkan kenyataan ini formalisme menarik pelajaran bahwa meta-matematika atau teori pembuktian, hendaknya dikembangkan dengan tujuan yang sebaiknya tugas utamanya yaitu mengajukan bukti-bukti tentang tidak terdapatnya kontradiksi dalam matematika.
Seperti halnya logisme, juga formalisme dapat membanggakan diri telah memperoleh hasil-hasil yang penting. Dalam perjalanan waktu ternyata ada juga kemungkinan untuk mengatakan formalisasi terhadap meta-matematika.
Secara jelas-jelas ditunjukkan, terlepas dari peristiwa yang bersifat lebih elementer, maka teori-teori matematika tidak sepenuhnya dapat dinyatakan dalam bentuk aksioma-aksioma. Dalam arti bahwa dalam setiap pemilihan aksioma secara konsisten dan terbatas senantiasa dapat ditemukan rumus-rumus yang senantiasa tidak dapat dibuktikan ataupun ditolak kebenarannya.
Menurut aliran formalis, justru bertentangan dengan kaum logis bahwa banyak masalah dalam bidang logika yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan matematika. Karenanya dapatlah ditemukanlah bahwa menurut realisme orang menemukan hal-hal yang diselidiki para ilmu pasti (seperti halnya Columbus menemukan Amerika) dan menurut konsep tualisme orang mendapatkan hal-hal baru (seperti halnya James Watt mendapatkan mesin uap).

Intuitisme
Di luar dua aliran di atas, masih ada pendirian lain yang lebih bersifat nomilistik. Menurut aliran ini satu-satuan yang abstrak sama sekali tidak terdapat dalam alam kenyataan. Maka harus ditunjukkan bahwa teori-teori matematik dapat diinterpretasikan kembali sedemikian rupa sehingga sehigga tidak mungkin orang dapat mengacu kepada satuan-satuan yang abstrak tersebut. Maka dicobalah,misalnya untuk disamping teori yang realistik mengembangkan pula teori himpunan yang nomimalistik yang meskipun terdapat hal-hal yang tak wajar serta bertele-tele, dapat juga memperoleh hasil yang setara.
Maka akhirnya memang tampak bahwa filsafat matematika tidak sepenuhnya mengelakkan mengelakkan adanya perbedaan-perbedaan pendapat yang merupakan ciri pertanda cabang-cabang filsafat yang lainnya. Tetapi dalam hal ini kiranya penting sekali untuk menginsyafi bahwa orang semakin menggunakan sarana-sarana yang eksak untuk seandainya tidak menyelesaikan, setidak-tidaknya untuk merumuskan serta menganalisis masalah-masalah yang ada.
Dengan demikian secara berangsur-angsur akan sampai pada taraf menciptakan sarana-sarana kerja logik, yang karena keanekaragamannya memungkinkan untuk itu.
Melalui tokohnya Jan Brouwer (1845-1918), aliran intuisionis menyatakan intuisi murni dari berhitung merupakan titik tolak tentang matematika bilangan. Hakikat sebuah bilangan harus dapat dibentuk melalui kegiatan intuitif dalam berhitung (counting) dan menghitung (calculating). Dengan hadirnya aliran ini akibatnya banyak sekali bagian dari matematika yang secara kumulatif telah diterima harus ditolak. Dan matematika itu harus ditulis kembali secara rumit sekali.

Matematika Ilmu Deduktif
Dalam ilmu deduktif, penyelesaian masalah didasarkan atas deduksi-deduksi (penjabaran-penjabaran), tidak seperti ilmu empirik yang mendasarkan pada pengalaman. Bagaimana caranya secara tepat mengetahui ciri-ciri deduksi, merupakan satu masalah pokok yang dihadapi filsafat ilmu. Deduksi diyakini penalaran yang sesuai dengan hukum-hukum serta aturan-aturan logika formal, dan orang menganggap tidaklah mungkin titik-titik tolak yang benar menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak benar.
Berling dan kawan-kawan (1999), menyebut ilmu-ilmu deduktif ialah ilmu-ilmu matematika. Dalam hal ini, sesunggunya dalil-dalil tidak lah dibuktkan kebenarannya melalui penyelidikan empirik, melainkan melalui penjabaran dalil-dalil yang sudah diperoleh sebelumnya. Dan pada gilirannya juga dibuktikan kebenarannya dari dalil-dalil yang sudah ada sebelumnya. Begitu seterusnya, akan ditemukan dalil-dalil baru.
Dalil-dalil matematika dibuktikan kebenarannya berdasarkan atas dalil-dalil yang lain, dan bukannya berdasarkan atas pengamatan.
Secara metodologik, ada perbedaan antara ilmu-ilmu deduktif dengan nondeduktif. Matematik membicarakan bilangan-bilangan, bangun-bangun geometrik, fungsi-fungsi, dan sebagainya. Tetapi, juga harus dipertimbangkan juga bahwa hal-hal yang dipelajari itu bagaimana adanya jika tidak dikaitkan pada bahan-bahan empirik tertentu, dan bagaiman orang mengenalnya.
Diyakini masalah kefilsafatan mengenai matematika dipengaruhi oleh matematika itu sendiri. Perkembangannya memang menunjukkan perubahan-perubahan yang mendalam. Matematika pun sebenarnya, awalnya merupakan ilmu empirik juga yang didasarkan atas diajukannya pertanyaan-pertanyaan yang kongkret mengenai hitung-menghitung, ukur-mengukur, timbang-menimbang, dan sebagainya.
Sejak zaman Yunani matematika diusahakan sebagai ilmu deduktif. Eucledes dalam bukunya Unsur-Unsur yang diterbitkan tahun 300 SM, memperlihatkan betapa tingginya ilmu ukur saat itu. Meskipun kemudian, keketatan pembuktiannya memang belumlah sempurna, dan hingga waktu-waktu selanjutnya terus dilakukan perbaikan yang hakiki.
Begitupun sekitar 3500 SM bangsa Mesir Kuno, menurut Suriasumantri (2007) telah mempunyai simbol yang melambangkan angka-angka. Para pendeta merupakan ahli matematika pertama yang melakukan pengukuran pasang surutnya sungai nil dan meramalkan timbulnya banjir, seperti yang dilakukan sekarang. Bedanya, pengetahuan matematika dianggap keramat. Tu ne quaesieris, scire nefas! (jangan bertanya, pengetahuan itu bukan untuk kita). Para pendeta dengan sengaja menyembunyikan pengetahuan tentang matematika untuk mempertahankan kekuasaan.
Matematika memang tidak lepas dari peradaban. Matematika memang merupakan bahasa artifisial yang dikembangkan untuk menjawab kekurangan bahasa verbal yang bersifat alamiah. Untuk itu diperlukan usaha tertentu guna menguasai matematika dalam bentuk belajar. Hanya saja, jurang antara mereka yang belajar dan tidak belajar makin lama makin lebar. Akibatnya, matematika pun makin lama semakin abstrak dan esoterik dari pandangan orang awam; magis dan misterius seperti mantera-mantera pendeta Mesir Kuno.
Peradaban manusia memang tak lepas dari matematika. Lancelot Hogben (dalam Suriasumantri, 2007) mengemukakan penduduk kota pertama adalah makhluk yang berbicara (talking animal) dan penduduk kota saat teknologi berkembang adalah makhluk yang berhitung (calculating animal).
Mereka hidup dalam jaringan matematika, angka-angka; takaran resep makanan, jadwal kereta api, angka pengangguran, tilang, pajak, pampasan perang, uang lembur, skor bilyar, kalori, timbangan bayi, temperatur klinis, curah hujan, cerah matahari, spedometer, indikator baterai, meteran gas, pulsa handphone, suku bunga bank, panjang gelombang, dan tekanan ban (Antoine de Saint Exupery,dalam Suriasumantri, 2007).
Bagi ilmu sendiri, matematika menyebabkan perkembangan yang sangat cepat. Tanpa matematika ilmu akan berhenti pada tahap kualitatif yang tidak memungkinkan untuk meningkatkan penalarannya lebih jauh.
Bagi bidang keilmuan modern matematika adalah sesuatu yang imperatif. Sebuah sarana untuk meningkatkan kemampuan penalaran deduktif
Manusia hidup dalam jaringan matematika, angka-angka; takaran resep makanan, jadwal kereta api, angka pengangguran, tilang, pajak, pampasan perang, uang lembur, skor bilyar, kalori, timbangan bayi, temperatur klinis, curah hujan, cerah matahari, spedometer indikator baterai, meteran gas, pulsa handphone, suku bunga bank, panjang gelombang, dan tekanan ban (Antoine de Saint Exupery,dalam Suriasumantri, 2007).
Bagi ilmu sendiri, matetmatika menyebabkan perkembangan yang sangat cepat. Tanpa matematika ilmu akan berhenti pada tahap kualitatif yang tidak memungkinkan untuk meningkatkan penalarannya lebih jauh.
Bagi bidang keilmuan modern matematika adalah sesuatu yang imperatif. Sebuah sarana untuk meningkatkan kemampuan penalaran deduktif.
Pengetahuan berkembang melalui kajian kualitatif dan kuantitatif. Bertrand Russel (Suriasumantri, 2007) menyatakan ilmu kualitatif adalah masa kecil dari ilmu kuantitif, ilmu kuantitatif merupakan masa dewasa ilmu kualitatif.

Empirisme
Empirisme berasal dari kata Yunani “empiris” yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu, empirisme diartikan sebagai faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia.
Pada dasarnya empirisme sangat bertentangan dengan rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Sebaliknya empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Seorang yang beraliran empirisme biasanya berpendirian bahwa pengetahuan didapat melalui penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan
tersebut. Ini berarti semua pengetahuan betapapun rumitnya dapat dilacak kembali dan apa yang tidak dapat bukanlah ilmu pengetahuan. Empirisme radikal berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukan pengetahuan.
Lebih lanjut anggapan orang terhadap filsafat amat berkurang, sebab dianggap sesuatu yang tak berguna untuk hidup. Ternyata dalam ilmu, pengetahuan yang berguna, pasti dan benar itu diperoleh orang melalui indranya. Empirilah yang mempunyai peranan amat penting bagi pengetahuan, dan mungkin satu-satunya dasar pendapat diatas itu disebut empirisme.
Penganut empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek yang merangsang alat-alat inderawi, kemudian di dalam otak dipahami dan akibat dari rangsangan tersebut dibentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat-alat inderawi tersebut.
Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah
barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan. Menurut penganut empirisme, pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi.
Tokoh-tokohnya, antara lain: Francis Bacon (1210 -1292), Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke ( 1632 -1704) dan David Hume ( 1711 -1776)

Francis Bacon
Dalam hidup ini orang masih juga mempergunakan hal-hal yang umum dan mutlak, masih mempergunakan agama, bahasa. Tetapi sebetulnya itu kekeliruan belaka, khayal.
Bacon (1210 – 1292) mempergunakan istilah idol. (Yunani eidola – khayal, kekeliruan, hantu). Demikian Bacon membuka pintu gerbang yang luas bagi empirisme.

Thomas Hobbes
Ada yang menyebut Thomas Hobbes (1588 – 1679) itu menganut sensualisme, karena ia amat mengutamakan sensus (indra) dalam pengetahuan. Hal itu benar, tetapi dalam hubungan ini ia dapat dianggap salah satu dari penganut empirisme, yang mengatakan bahwa persentuhan dengan indra (empiri) itulah yang menjadi pangkal dan sumber pengetahuan.

David Hume
Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Dua hal dicermati oleh Hume, yaitu substansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu. Misal kualami kesan: putih, licin, ringan, tipis. Atas dasar pengalaman itu tidak dapat disimpulkan, bahwa ada substansi tetap yang misalnya disebut kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi. Bahwa di dunia ada realitas kertas, diterima oleh Hume. Namun dari kesan itu mengapa muncul gagasan kertas, dan bukan yang lainnya? Bagi Hume, “aku” tidak lain hanyalah “a bundle or collection of perceptions (kesadaran tertentu)”.
Dengan amat tegas David Hume (1711 – 1776) hanya menerima persentuhan indra dengan hal luas, hanya itu saja, segala kesimpulan yang diadakan orang itu tidak ada dasarnya sama sekali. Menurut Hume pengetahuan budi tak lagi dapat dipercaya, dari empirisme ia sebetulnya sampai kepada skepsis.
Walaupun bermacam-macam pendapat ahli fikir yang dimasukkan ke golongan filsafat empirisme, semuanya melenyapkan kedaulatan budi atau rasio.
Jika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya, misal batu yang disinari matahari menjadi panas, kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman. Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi tidak memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat. Yang disebut kepastian hanya mengungkapkan harapan kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari “probable” (berpeluang). Maka Hume menolak kausalitas, sebab harapan bahwa sesuatu mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri, namun hanya dalam gagasan kita. Hukum alam adalah hukum alam. Jika kita bicara tentang “hukum alam” atau “sebab-akibat”, sebenarnya kita membicarakan apa yang kita harapkan, yang merupakan gagasan kita saja, yang lebih didikte oleh kebiasaan atau perasaan kita saja.
Hume merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita.

John Locke
John Locke (1632 – 1704) hendak menyelidiki kemampuan pengetahuan manusia, sampai kemanakah ia dapat mencapai kebenaran dan bagaimanakah mencapainya itu. Ia seperti Descartes menerima dualisme : substansi yang berpikir dan yang berkeluasan : dunia jiwa dan dunia bahan. Ia mempergunakan sensation dan reflection. Refleciton itu pengenalan intuitif serta memberi pengetahuan kepada manusia lebih baik, lebih penuh dari sensation. Sensation merupakan suatu yang mempunyai hubungan dengan dunia luar, tetapi tidak dapat meraihnya dan tak dapat mengerti sesungguhnya. Tiap-tiap pengetahuan itu terjadi dari kerjasama antara sensation dan reflection. Dalam hal ini ia bertentangan dengan Descartes.

Ilmu-Ilmu Empiris
Dunia ilmu-ilmu empiris biasanya dibagi dalam dua belahan. Belahan pertama meliputi ilmu-ilmu alam. Belahan kedua meliputi apa yang dinamakan ilmu-ilmu manusia, ilmu-lmu budaya, ilmu-ilmu rohani, ilmu-ilmu perilaku atau ilmu-ilmu masyarakat.
Meski ilmu-ilmu itu memiliki pengertian yang berbeda dan tidak sama sepenuhnya, masing-masing hendak menunjukkan bahwa objek-objek atau sasaran penyelidikan yang dihadapi ilmu-ilmu empiris dapat dirinci lebih lanjut dalam pelbagai jenis. Dan yang demikian tidak ada yang menyangkal.
Dalam aliran empiris, sebuah bahan galian, persenyawaan kimia atau mikroba sama sekali berbeda dengan lembaga masyarakat, susunan kabinet atau peradaban.
Yang menjadi masalah justru seberapa dalam perbedaan-perbedaan yang terdapat diantara objek-abjek tadi dan apakah perbedaan tersebut begitu mendasarnya. Sehingga metode yang dipakai oleh ilmu-ilmu yang bersangkutan untuk mengadakan penyelidikan serta memberikan penjelasan harus disesuaikan. Atau dengan kata lain, apakah ada satu metode yang dapat dipakai untuk mengadakan penyelidikan mengenai segenap objek yang mungkin terdapat atau apakah ada dua metode atau barangkali lebih dari dua metode. Pertama disebut monisme metode, yang keduua dualisme metode, dan ketiga pluralisme metode.
Dalam ilmu, memang pengertian keadaan halnya sama dengan perjalanan halnya. Di satu sisi ilmu-ilmu empirik (berhubung apa yang dinamakan spesialisasi) berkembang seraya saling menjauh, di lain pihak berkembang seraya saling mendekat (misalnya, karena semakin lama semakin banyak menggunakan apa yang dinamakan sarana-sarana eksak dalam ilmu jiwa, ilmu masyarakat, dan ilmu sejarah).

Simpulan
Ada dua aliran yang berkembang dalam filsafat ilmu, yakni aliran deduktif dan empirisme.
Aliran ilmu-ilmu deduktif berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi manusia tidak berdasarkan pengalaman seperti halnya ilmu empiris. Melainkan berdasarkan deduksi-deduksi (penjabaran-penjabaran). Ilmu dalam aliran deduktif ialah matematika.
Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan. Menurut penganut empirisme, pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi.
Dunia ilmu-ilmu empiris biasanya dibagi dalam dua belahan. Belahan pertama meliputi ilmu-ilmu alam. Belahan kedua meliputi apa yang dinamakan ilmu-ilmu manusia, ilmu-lmu budaya, ilmu-ilmu rohani, ilmu-ilmu perilaku atau ilmu-ilmu masyarakat.

Daftar Pustaka

A.D., de Groot. 1961. Methodologie. Denhag.

Berling, dkk. 1999. Pengantar Filsafat Ilmu. Alih Bahasa Drs. Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Peodjawijatna, I.R. 2005. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta.

Suriasumantri, Jujun S. 2007 Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan.

Suriasumantri, Jujun S.2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan.