BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengantar
Bahasa merupakan media utama yang membedakan seni sastra dengan cabang-cabang seni sastra lainnya. Sebagai alat komunikasi sosial, bahasa mencakup aneka ragam fungsi terapan yang sukar untuk dinyatakan sebagai sastra. Hubungan sastra dengan bahasa mungkin lebih tepat jika dinyatakan sebagai lingkaran bahasa yang diterobos oleh bancah sastra di beberapa wilayah bahasa.

B. Filsafat Keindahan (Estetika)
Esetetika berasal dari Bahasa Yunani, aisthetike. Pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.
Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.

1. Objek Estetika
Yang menjadi objek utama secara langsung dari estetika adalah keindahan, baik keindahan alam maupun keindahan seni. Beberapa orang berpendapat bahwa keindahan alam hanya ciptaan Tuhan. Seniman hanya dapat mencipta keindahan seni, yang bahan bakunya adalah alam semesta.

2. Periodisasi Estetika
Secara garis besar, perodisasi estetika dapat dirumuskan sebagai berikut;
a. Periode Platonis atau Dogmatis
Periode Platonis atau Dogmatis merupakan tahap pembentukan pertama. Periode ini berlangsung sejak Socrates (399 SM) hingga Baumgarten (1714-1762). Baumgarten lah yang pertama-tama memberi istilah Yunani “aesthetika” dalam bahasa Inggris Aesthetics, di Indonesiakan menhjadi estetika. Socrates adalah perintis estetika sedangkan aristoteles meneruskan ajaran gurunya (Plato, yang murid Socrates). Plato dikenal sebagai dewa keindahan.
Keindahan bagi Aristoteles merupakan keselarasan dan keserasian yang setinggi-tingginya antara bentuk dan isi. Dalam dunia sastra, masalah bentuk dan isi merupakan masalah klasik yang tidak pernah terselesikan sampai sekarang.

b. Periode Kritika
1) Periode sebelum Emanuel Kant
Pada periode sebelum Kant kita mengenal dua aliran besar yaitu:
a) Rasionalisme Leibniz dan Baumgarten
Estetika Leibniz mempunyai arti penting daam sejarah perkembangan teori estetika, Leibniz lah (1646 – 1716) yang menghidupakan kembali beberapa konsepsi keindahan seperti simbolisme, vitalisme, dan teleologisme yang bertentangan dengan filsafat keindahan descartes. Leibniz mengemukakan bahwa keindahan itu terdapat dalam keseragaman terwujudnya logika di dalam alam inderawi.
Baumgarten (1714-1762) hidup sesudah Leibniz. Ia sangat besar pengaruhnya bagi sejarah estetika, baumgarten lah yang pertama memberi nama “aesthetika”. Namun, Baumgarten sebenarnya tidak banyak memberi sumbangan pikiran baru tentang teori keindahan tetapi justru Kant banyak memungut istilah-istilah baumgarten dan Kant lah yang banyak mengembangkan pikiran-pikiran baru keindahan.
b) Sensualisme Burke
2) Periode atau Zaman Emanuel Kant
Pada periode ini, jika Baumgarten baru menemukan estetika sebagai suatu istilah, maka pada zaman Kant, estetika itu telah diberi landasan penilaian kritis untuk selanjutnya disusun menjadi suatu ilmu pengetahuan. Seni menurut Kant adalah pencipta sadar terhadap objek-objek, sehingga si penikmat merasakan bahwa objek-objek tersebut dicipta sebagai tiruan alam, tetapi tanpa tujuan tertentu.
3) Periode Sesudah Emanuel kant
Beberapa pengikut Kant yang paling menonjol adalah Schiller, Schelling, Hegel, dan Schoupenhauer. Dan mereka itulah yang kemudian menjadi perintis filasafat keindahan dalam periode sesudah Kant. Shiller, (1758 – 1805) memberi batasan bahwa seni ialah kegiatan dan permainan. Keindahan terletak pada pertemuan roh dan alam, atau antara materi norma.
Schiller berpendapat bahwa bidang studi estetika merupakan bidang studi yang paling luas mencakup bidang-bidang studi yang lain. Pengalaman estetika sajalah yang membawa kita ke alam luas tak terbatas.
Schelling (1775 – 1854) mengkritik dengan pedas para pengikut kant yang lain yang mendahuluinya. Mereka itu ialah Fichte, Schiller, dan Schlegel. Schelling berpendapat bahwa pendahulunya tersebut tidak memiliki semangat keilmuan yang sebenarnya terhadap filsafat seni.
Hegel adalah seorang komentator yang lebih dikenal sebagai penulis estetika terbesar sepanjang zaman. Empat tulisan Hegel tentang estetika yang menjadi sumber yang tidak akan kering adalah:
a) Seni
Keindahan menurut hegel adalah idea yang terwujud di dalam indera. Hegel dalam bukunya “aesthetika” mengemukakan bahwa jika seni telah mencapai tujuan terakhirnya maka ini berarti bahwa filsafat dan agama secara bersama-sama dengan seni telah mencapai taraf keterpaduannya untuk memperoleh kesempurnaan di dalam ilmu pengetahuan.
b) Tahap Seni
Tahap-tahap perjalanan seni di dalam periodisasi keindahan dan seni ini terdapat pada buku kedua dalam “aesthetika” karya agung Hegel. Menurut Hegel seni adalah hubungan antara idea dan gambaran indera. Penginderaan terhadap idea tersebut merupakan simbolisasi seni. Ini merupakan tahap awal, sifatnya masih labil sebab hubungan tersebut belum mencapai idealisme seni yang lebih stabil sifatnya.
c) Matinya Seni
Bentuk dan gaya seni Hegel adalah rasional dan toritis. Ironinya, Hegel mengalami kesulitan yang justru oleh pendahulunya berhasil dielakkan. Untuk mengatasinya, Hegel memadukan seni, agama, dan filsafat. Seni dan agama memang berlainan fungsi dengan filasafat. Ada kecenderungan menempatkan seni dan agama berada di bawah filsafat. Kesalahan Hegel justru terlalu mengandalkan rasio, tetapi mematikan seni. Croce menganggap bahwa seni Hegel adalah seni amatiran. Sistem filsafat Hegel pada hakikatnya adalah bertentangan dengan seni, sebab terlalu rasional, bertentangan dengan agama. Padahal, seni adalah jalan keempat untuk menuju ke kebanaran, disamping filsafat, logika, ilmu pengetahuan dan agama.

d) Pikiran dan Renungan
Jika pikiran manusia bermuara pada logika, maka renungan manusia bersifat transdental. Schopenhauer (1783 – 1860) merupakan penutup dari periode kritika dalam sejarah estetika. Schopenhauer selalu menyebut bahwa filsafat Kant merupakan sumber inspirasinya. Sedang Plato adalah pendahulu yang sangat dikagumi. Bagi Schopenhauer, seni yang tertinggi adalah music. Sedang seni terendah adalah arsitektur, setingkat dengan seni mencangkul di kebun, sebab sangat dekat dengan kebutuhan jasmani manusia. Baru berikutnya berturut-turut: seni rupa, seni sastra, seni drama, tragedi dan komedi. Menurut Schopenhauer, seni adalah jalan yang terbaik untuk mencapai pengetahuan murni tentang dunia, karena seni adalah kembangnya segala yang ada.
c. Periode Positif Dewasa Ini
1) Estetika atas (von oben)
Estetika atas tidak akan dapat tersistematikan secara rapi tanpa mengabaikan beberapa keganjilan pikiran. Ahli pikir Perancis yang besar sumbangannya pada akhir abad ke-20 terhadap estetika teoritis adalah Paul Souriau. Tulisan-tulisan Souriau tentang filsafat seni sangat tajam, mendalam dan bermutu tinggi. Selain Souriau, ada juga Tolstoy dari Rusia, menurut Tolstoy seni merupakan suatu aktivitas kemanusiaan yang berproses secara sadar, seseorang dengan perantaraan lambing-lambang atau simbol-simbol tertentu, menyampaikan perasaan-perasaan yang pernah dialaminya (baik langsung mapun tidak langsung), agar orang lain terpengaruh oleh perasaan-perasaan itu, kemudian timbulimpati dan simpati.
2) Estetika bawah (von unten)
Gustav Theodor Fechner (1807 – 1887) dari Jerman, orang pertama yang mengusulkan nama estetika induktif (von unten) sebagai alternatif lain dari estetika metatisis lama (von oben) untuk menentukan konsepsi yang tepat mengenai hakikat dari keindahan yang objektif. Kebaikan menurut Fechner adalah orang pria yang rajin mengatur segala di rumahnya. Sedang kecantikan adalah istrinya yang selalu segar, sedap dipandang mata. Ketenangan ialah bayi sehat yang penuh aktivitas bermain dan lucu. Kegunaan adalah pelayan yang setia mengabdi pada tuannya. Kebenaran ialah guru keluarga yang ahli lagi bijak. Tangan sebagai lambing kegunaan, dan kaca cermin sebagai lambing kecantikan.
3) Estetika dari bawah ke atas (von unten nach oben)
Estetika dari atas ke atas inilah yang diharapkan dari masa depan estetika. Aliran estetika dari bawah ke atas berupaya memadukan antara tuntutan-tuntutan pemikiran yang filosofis dengan keharusan metode penyelidikan secara positif dan terdapat dalam psikologi sosiologi, sehingga nanti muncullah “psikoestetik” dan “sosioestetik”

3. Metode Dan Pendekatan Estetika
Metode dan pendekatan estetika disini lebih ditekankan pada objek estetiknya yaitu karya sastra. Menurut M. H. Abrams (1976: 3-29) menggambarkan kerangka hubungan antara karya sastra (work), pengarang, penulis, pencipta, atau seniman (artist), pembaca, penonton, penikmat, apresiator, penilai atau public (audience), dan alam semesta (universe) sebagai bentuk triangle.

Universe

Work

Artist Audience
Berdasarkan diagram model Abrams di atas, metode dan pendekatan karya sastra dapat dirumuskan ke dalam empat model sebagai berikut :
a. Pendekatan Objektif
Pendekatan yang menitikberatkan pada karya sastra itu sendiri secara otonom atau mandiri (work).
b. Pendekatan Ekspresif
Pendekatan yang menitikberatkan pada diri sastrawan (artist).
c. Pendekatan Pragmatik
Pendekatan yang menitikberatkan pada pembaca atau public (audience)
d. Pendekatan Mimetik
Pendekatan yang menitikberatkan pada alam semesta (universe).

C. Stilistika, Retorika, Wacana, Logika, dan Bahasa
1. Stilistika
Stilistika adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra.
2. Retorika
Retorika adalah suatu disiplin ilmu pengetahuan yang secara khusus memusatkan perhatiannya terhadap tutur dan kegiatan bertutur.
3. Wacana
Wacana (Panuti Sudjiman, Edito, 1984: 80) adalah ungkapan pikiran yang beruntun, secara lisan atau tulisan tentang suatu pokok.
4. Logika dan Bahasa
Kedudukan dan fungsi bertutur:
a. Sebagai pembeda antara manusia dan binatang
b. Menyangkut kegiatan sosial budaya
c. Berfungsi informatif

BAB II
RETORIKA

A. Kegiatan bertutur dan Retorika
1. Kegiatan Bertutur
Kegiatan bertutur pada dasarnya adalah kegiatan manusia membahasakan sesuatu. Sesuatu tersebut lebih lanjut disebut topic tutur. Namun pada umumnya berkisar pada (a) Diri orang (pikiran, gagasan, kehendak), (b) pengetahuan atau pengalaman (c) lingkungan.
Ada dua jenis bentuk bahasa yang bisa dipakai orang untuk membahasakan topic tutur, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Bahasa lisan mewujudkan tutur lisan dan bahasa tulis mewujudkan tutur tertulis.
2. Pemanfaatan Retorika
Pada dasarnya ada tiga bentuk cara orang memanfaatkan retorika.
a. Secara sopan dan intuitif
b. Secara tradisional konvensional
c. Secara terencana.

B. Pengertian Retorika
Pengertian retorika berdasarkan sejarah perkembangannya dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Retorika Attic
Retorikus pertama bernama Corax. Bersama muridnya yang bernama Tissias, mereka menyatakan bahwa retorika adalah kecakapan berpidato di muka umum.
2. Retorika Sofis
Menurut kelompok sofis, retorika adalah alat untuk memenangkan suatu kasus melalui kegiatan bertutur. Kemenangan merupakan tujuan akhir dari retorika Sofis ini.
Prinsip-prinsip retorika yang diajarkan oleh kaum sofis ini antara lain:
a. Seorang penutur harus pandai memanfaatkan argumentasi
b. Penutur harus cakap, terampil dan fasih berbahasa
c. Penutur harus pandai memanfaatkan emosi mitra tutur
d. Penutur harus pandai membakar semangat penanggap tutur
e. Tujuannya adalah kemenangan.
3. Retorika Aristoteles
Menurut aristoteles, retorika adalah ilmu yang mengajar orang, keterampilan menemukan sarana persuasive yang objektif dari suatu kasus. Tujuan reorika Aristoteles adalah untuk meyakinkan penanggap tutur akan kebenaran kasus yang terkandung di dalam topic tutur.
4. Retorika Modern
Pada awal abad ke-20 berkembang pengertian retorika baru yang dirintis oleh Richards, Kenneth Burke, Aliran General Semantik, dan pendukung Teori Tagmemik. Retorika adalah ilmu yang mengajarkan orang mengidentifikasi dalam arti yang seluas-luasnya mengidentifikasi sebagai penutur , topic tutur, penanggap tutur, diksi, cara penampilan, hasil yang diharapkan, dan sebagainya.

Kesimpulan
Retorika adalah ilmu yang mengajarkan tidak dan usaha yang efektif dalam persiapan, penataan, dan penampilan tutur untuk membina saling pengertian dan kerjasama serta kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB III
LOGIKA DAN BAHASA

A. HUBUNGAN LOGIKA DAN BAHASA
1. Tugas dan Objek Logika
Manusia tahu karena hasil tindakan melalui alat atau budi daya yang disebut : pikir, budi, atau akal. Dalam bahasa alat atau daya tersebut dinamakan ’ berpikir ’. Tugas logika adalah memberikan penerangan bagaimana seharusnya orang berpikir. ( Poedjawiyatna, 1978 : 2 )
2. Logika dan Bahasa
’ Pengetahuan ’ sebagai hasil proses tahu manusia baru tampak nyata apabila diungkapkan dalam bentuk kata atau bahasa. Dalam berbahasa logis diperlukan aturan-aturan, pendidikan, latihan, pembinaan, disamping sikap peka dan kritis. ( Soediro Satoto, 1980 : 2 )
Bahasa mempunyai fungsi kultural yaitu sarana untuk menyampaikan kebudayaan.
Dalam ilmu pengetahuan, bahasa harus mampu mengungkapkan maksud si penutur dengan tepat. Bahasa dalam ilmu pengetehuan harus logis harus mengikuti aturan-aturan yaitu logika.
Bahasa sastra seolah-olah memperkosa logika, misal : keluar masuk, minum kopi.
B. ARGUMENTASI
Argumentasi adalah suatu keahlian untuk mempengaruhi pendapat atau sikap orang lain, agar mereka percaya atau bertindak sesuai apa yang dimaksudkan oleh pengarang atau pembicara. ( Gorys Keraf, 1971 : 203—205 ) . Gorys Keraf mengemukakan sasaran-sasaran dasar yang ditetapkan setiap pengarang argumentasi adalah :
a) Argumentasi harus mengandung kebenaran bagi perubahan sikap atau keyakinan yang diargumentasikan
b) Pengarang harus berusaha untuk menghindari setiap istilah yang dapat menimbulkan prasangka-prasangka
c) Pada saat pertama pengarang menggunakan istilah, ia harus membatasi pengertian dari istilah yang dipergunakan itu
d) Pengarang harus menetapkan secara tepat titik ketidaksepakatan yang akan diargumentasikan

1. Dua Macam Argumentasi
a. Argumentasi deduktif
b. Argumentasi induktif

Logika artinya ’ bernalar ’. Penalaran artinya proses mengambil kesimpulan dari bahan bukti, petunjuk, evidensi, atau apa yang dianggap bahan bukti atau evidensi.
Penalaran lewat induksi adalah penalaran yang berawal pada hal-hal yang khusus / spsifik dan berakhir pada yang umum. Kesimpulan induktif selalu berupa ’ generalisasi ’ atau ’ perumuman ’.
Generalisasi induktif berdasarkan fakta tetapi ada juga yang hanya berupa asumsi, dugaan, atau andaian dan sering diperkuat oleh contoh, perincian, penjelasan, pengkhususan, atau ilustrasi.
Penalaran deduktif adalah penalaran dari hal-hal umum ke hal-hal khusus. Berlangsung melalui 3 tahap yaitu :
1) generalisasi sebagai pangkal bertolak
2) penerapan generalisasi pada kejadian tertentu
3) kesimpulan deduktif yang berlaku bagi peristiwa khusus
Penalaran deduktif adalah silogisme yang terjadi dari bagian :
1) premis mayor
2) premis minor
3) kesimpulan
Premis ialah putusan yang menjadi dasar argumentasi.
Putusan ialah pernyataan yang dapat dikatakan benar atau salah.
Dalam perenggan penalaran deduktif, kalimat pokoknya biasanya suatu gagasan yang berupa kesimpulan silogisme, baik yang dinyatakan secara tersurat maupun tersirat.

2. Fakta, Evidensi, Pernyataan atau Penegasan, dan Opini
Fakta : peristiwa yang sebenarnya sebagai lawan dari suatu yang khayal.
Evidensi : semua fakta yang ada yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu.
Opini : pendapat, pikiran, pendirian. Sifatnya subyektif.

C. SESAT NALAR ( FALLACY )
Sesat nalar ialah gagasan, perkiraan, kepercayaan, atau kesimpulan yang sesat atau salah. Ada beberapa sesat nalar :
 Deduksi yang salah
 Generalisasi yang terlalu luas
 Pemikiran ‘ atau ini, atau itu ‘
 Salah nilai atau penyebaban
 Analogi yang salah
 Penyampaian masalah
 Pembenaran masalah lewat pokok sampingan
 Argumentasi ’ ad homonim ’
 Himbauan pada wibawa dan keahlian yang patut disangsikan
 Non-requisite

D. RENUNGAN
Dilihat dari segi fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi bagi manusia sebagai makhluk sosial.
Dari segi bentuknya, bahasa merupakan perujudan dan bentuk berpikir.
Bahasa dan logika saling berpengaruh, saling memberi isi dan melengkapi.

BAB IV
HUBUNGAN KAJIAN BAHASA DAN SASTRA APLIKASINYA TERHADAP PROSA, PUISI DAN DRAMA

A. HUBUNGAN PENGKAJIAN SASTRA DAN BAHASA
1. Latar Belakang Masalah
Mengkaji hubungan fundamental antara sastra dan bahasa.
Stilistika adalah suatu tempat pertemuan di antara makro-analisis dan mikro-analisis.
2. Kerangka Teori
Stilistika memperhatikan gaya integrasi seluruh tingkat dalam hirarki linguistik suatu teks atau wacana.
Stilistika adalah penyelidikan wacana sastra atau cara pengungkapan dalam sastra yang potensinya terdapat di dalam setiap bahasa itu sendiri, dalam kemungkinan untuk koherensi yang diberikan oleh setiap bahasa untuk ungkapan sehari-hari.
Stilistika adalah bidang sastra yang paling peka dengan retorika. Retorika bicara tentang komposisi argumenasi dan pidato. Strukturalisme adalah metode analisis linguistik.
Garis besar sastra adalah kalimat. Pembicaraan kalimat merupakan dasar untuk membicaraka alur atau plot dalam sastra. Alur ( plot ) berbeda dengan script.
3. Kajian Linguistik terhadap Alur
Menurut W. Labov, dalam sebuah narasi ( cerita ) sekurang-kurangnya terdapat 4 tahapan yang membentuk sebuah cerita yaitu :
1) Abstraksi
Biasanya dimulai barang-barang yang abstrak.
Fungsinya sebagai ringkasan, intisari, ikhtisar, yang menuju ke isi pembicaraan.
2) Orientasi
Biasanya menunjuk tahap sebelumnya.
3) Komplikasi
Menunjuk ke suatu hal yang tidak biasa, kejadian-kejadian yang luar biasa, keluar dari script, timbul konflik.
4) Evaluasi
Memberi petunjuk mengapa cerita ini diceritakan.
Terdapat unsur-unsur tanda sebagai indikator di dalam evaluasi, antara lain :
1) unsur-unsur penguat :
a. Kata-kata yang bisa ditambah di dalam narasi sebagai tanda kalimat naratif
b. Unsur-unsur gerak : hubungan teks dengan sosial budaya yang lebih luas
c. Penggunaan intonasi
d. Penggunaan kata-kata seru
2) unsur-unsur pembanding :
a. Kata ingkar ( negatif )
b. Kata-kata pengandaian
c. Kata-kata yang menunjukkan ke-akan
d. Kata-kata yang tidak terjadi
e. Kata-kata bantu : harus, mungkin, telah, sudah
f. Kata-kata pertanyaan, mungkin ancaman
 Resolusi
Keadaan mulai menurun.
 Coda ( ekor )
Berakhirnya cerita, kembali ke dalam suasana atau keadaan sekarang ini.
4. Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik
Ada 2 konsep waktu yang penting yaitu :
Konsep waktu SINTAGMANTIK ( linear ) : hubungan unsur-unsur kebahasaan yang muncul dalam satu urutan, sesuai dengan linearitas.
Contoh : Saya masuk warung, makan dan minum kopi.
Konsep waktu PARADIGMATIK ( non-linear ) : berada dalam pikiran, merupakan kemampuan pribadi seseorang dalam bahasa.
Contoh : Saya makan
Saya minum
Tahap ’ komplikasi ’ dan ’ resolusi ’ ada hubungan sintagmatik
Tahap ’ abstraksi ’ , ’ orientasi ’ , ’ evaluasi ’ dan ’ coda ’ ada hubungan paradigmatik
5. Renungan
Ada hubungan fundamental pengkajian sastra dan bahasa. Teori hubungan tersebut dalam sastra adalah alur ( plot ).
Berdasarkan waktunya : hubungan sintagmatik dan paradigmatik
Berdasarkan tingkatannya : hubungan parataktik ( koordinasi ) dan hipotaktik ( subordinasi )

B. BAHASA PUISI
Secara tradisional model bahasa dibentangkan terutama oleh Biihler yang melahirkan 3 fungsi yaitu :
 Emotif menyatakan perasaan si pembaca
 Konotatif mengacu kepada alamat
 Referensial berfungsi menunjuk, mengacu, menerangkan
Selain itu terdapat 3 fungsi korespondensi yaitu :
 Fungsi phatic untuk menetapkan, mengiakan, memperpanjang, memutuskan komunikasi atau mencek adanya hubungan komunikasi.
 Fungsi metabahasa untuk membicarakan bahasa, fungsi kebahasaan atau fungsi linguistik.
 Fungsi puitik adalah fungsi kepuitisan, suatu sikap atau kerahan bahasa yang mengacu pada pesan dmi pesan itu sendiri.
Puisi berfungsi untuk membangkitkan keharuan dan emosionalitas, sedangkan retorika berfungsi untuk menyampaikan ide atau gagasan.
Bahasa puisi yang digunakan dalam sebuah sanjak kcuali berfungsi sebagai media komunikasi juga untuk memperoleh efek kepuitisan.
C. BAHASA DRAMA : KEDUDUKAN, FUNGSI, PERANAN DAN GAYA
1. Hubungan Pengkajian Bahasa, Sastra, Budaya dan Seni teater tradisionnal
Bahasa daerah adalah salah satu unsur kebudayaan nasional yang dilindungi oleh negara.
Bahasa daerah berfungsi sebagai :
1) Lambang kebanggaan daerah
2) Lambang identitas daerah
3) Alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat
Kaitannya dengan fungsi bahasa Indonesia, bahasa daerah berfungsi :
1) Pendukung bahasa nasional
2) Bahasa pengantar pendidikan
3) Alat pengembangan serta pendukung kebudayaan daerah
2. Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Seni
Seni teater tradisional dalam program sociodrama yang dimaksud ialah suatu bentuk kesenian yang menyatu dengan kehidupan masyarakatnya dan mempunyai sifat spontan, sederhana, improvisasi, akrab, serta dapat langsung menyampaikan pesan yang mudah diresapi oleh masyarakat lingkungannya.
3. Teater Tradisional sebagai Media Komunikasi
Teater tradisional pada umumnya disajikan dengan menggunakan bahasa lisan (maksudnya tanpa naskah lakon). Teater tradisional tumbuh, hidup dan berkembang di daerah-daerah. Bahasa yang digunakan adalah bahasa lisan daerah dan disajikan dalam situasi tidak resmi. Teater tradisional tidak sekedar memberi hiburan yang memberi kenikmatan tetapi juga sebagai media atau sarana komunikasiyang berfungsi menyampaikan pesan yang berguna. Pesan ini hendak diartikan sesuatu yang berfaedah beberapa mengenai issue tentang penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar dan issue tiadanya komunikasi dua arah yang memadai (sudaryanto, 1983: 11).
4. Filsafat Komunikasi Negara sedang Berkembang
Peranan komunikasi di dalam negara yang sedang berkembang menjadi(Dr. Phil, Astrid S. Susanto, 1976:69-70):
a) Penyebab dan pembawa perubahan
b) Pengubah tradisi(dalam arti positif maupun negatif)
c) Penimbul tuntutan dan harapan baru yang belum dikenal
d) Penyebab urbanisasi
e) Pengakhir buta huruf.
5. Seniman sebagai Humas dan Komunikator
Dalam fungsi sebagai komunikator pada masyarakat Indonesia yang sedang melaksanakan tugas pembangunan termasuk di dalamnya membbangun bahasanya, seniman bisa menyisipkan pesan yang dianggap sebagai issue pembinaan dan pengembangann bahasa.
6. Pengindonesiaan Teater Tradisional
Pengindonesiaan Teater Tradisionalbentuk wayang misalnya tidak sekedar pengalihbahasaan dari bahasa daeran ke bahasa Indonesia, tetapi juga proses ali kode dan alih budayanya.

7. Gaya Bahasa Drama
Bahasa dalam drama lazimnya mengunakan bahasa dalam bentuk percakapan (dialog atau monolog. Aside atau sampingan, solilokui). Bahasa cakapan mengacu pada citraan dengaran (auditory imagery).
Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam bahasa drama:
1) Bahasa drama hendaknya melahirkan permasalahan yang harus dipikirkan, dirasakan dan dipecahkan
2) Bahasa drama hendaknya bisa menggambarkam kekhasan tokoh
3) Bahasa drama hendaknya mampu membina alur dramatik (dramatic plot).
Bahasa cakapan hendaknya akrab dengan publiknya tanpa harus mengorbankan kekhasan bahasa drama sebagai bahasa drama tentunya, misalnya:
a) Gaya Bahasa Drama Sejarah
b) Gaya Bahasa Drama Realisme
c) Gaya Bahasa Drama Absurdisme.

BAB V
GAYA BAHASA

A. HAKIKAT DAN SYARAT GAYA BAHASA
1. Hakikat dan Pengertian Gaya Bahasa
Gaya bahasa itu meliputi semua hierarki kebahasaan pilihan kata secara individual.
2. Syarat- Syarat Gaya Bahasa
Dr. Gorys Keraf (1981:99) mensyaratkan bahwa sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur dasar: kejujuran, sopan-santun, dan menarik.
B. JENIS-JENIS DAN RAGAM GAYA BAHASA
1. Berdasarkan titik tolak yang dipergunakan
Dr. Gorys Keraf(1981:101) mengklasifikasikanempat gaya bahasa
1) Gaya bahasa berdasarka pilihan kata
2) Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat
3) Gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung di dalamnya
4) Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna yang terkandung di dalamnya.
 Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata
Gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu.
Dalam bahasa standar (bahasa baku) dapat dibedakan Dr. Gorys Keraf (1981:101-106):
i. Gaya bahasa resmi (bukan bahasa resmi)
ii. Gaya bahasa tak resmi
iii. Gaya bahasa percakapan.
 Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat
a) Struktur kalimat
(Keraf 1981: 106-108) dilihat dari struktur kebahasaannya kalimat-kalimat dapat bersifat periodik, kendur, dan berimbang
b) Gaya bahasa
Berdasarkan corak struktur kalimat dapat dihasilkan gaya bahasa berikut(Keraf 1981:108-111):
i. Antiklimaks
ii. Repetisi
iii. Antitesis
c) Gaya bahasa berdasarkan nada
Gaya bahasa berdasarkan nada dapat dibedakan dalam:
i. Gaya yang sederhana
ii. Gaya mulia dan bertenaga
iii. Gaya menengah
d) Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna
Dapat dibedakan menjadi:
i. Gaya langsung dan retoris(retorical figures)
Dapat dibedakan menjadi:
1) Aliterasi
2) Anostrof
3) Apofasisi
4) Apostrof
5) Asindenton
6) Kiasmus (chiasmus)
7) Elipsis
8) Eufemismus
9) Histeron posteron
10) Ironi
11) Litotes
12) Inuendo
13) Perifrasis
14) Pleonasme atau tautologi
15) Prolepsis
16) Pernyataan retoris
17) Silepsis dan zeugma (Keraf 1981: 114-121)
ii. Gaya kiasan (tropes)
Dapat dibedakan menjadi:
1) Persamaan atau simile
2) Metafora
3) Personifikasi
4) Alusi
5) Metonimi
6) Sinekdoke
7) Hiperbol
8) Paradoks
9) Oksimoron
10) Hipalase
11) Eponim
12) Epitet
13) Pun atau paranomasia. (Keraf 1981;121-128)
e) Berdasarkan maksud dan tujuan yang hendak dicapai
Berdasarkan maksud dan tujuan yang hendak dicapai maka gaya bahasa dapat dibedakan menjadi:
1) Gaya bahasa perbandingan
2) Gaya bahasa pertentangan
3) Gaya bahasa pertautan
4) Gaya bahasa perulangan.

Daftar Pustaka

Satoto, Soediro. 1995. Stilistika. Surakarta: STSI Press Surakarta