resuman buku herman waluyo judul “Drama teori dan pengajaranya
DAFTAR ISI

BAB I
DRAMA DAN PERMASALAHANNYA
1. LAKON DAN KONFLIK MANUSIA
2. STRUKTUR DRAMA NASKAH
• PLOT atau krangka cerita
• Penokohan dan perwatakan
• Dialog atau percakapan
• Seting atau landasan atau tempat kejadian
• Tema atau nada dasar cerita
• Amanat pesan pengarang
• Petunjuk teknis
• Drama sebagai interprestasi kehidupan
3. NASKAH- PENGARANG- PEMENTASAN – PENONTON
4. PEMENTASAN DRAMA
• AKTOR DAN CASTING
• SUTRADARA
• PENATA PENTAS
• PENATA ARTISTIK
5. KLASIFIKASI DRAMA
• Tragedi atau drama duka atau duka cerita
• Melodrama
• Komedi atau drama ria
• Dagelan Farce
6. JENIS DAN KONSEPSI DRAMA DAN TEATER
• Jenis-jenis drama
• Klasifikasi drama berdasarkan aliran
• Beberapa konsepsi tentang drama atau teater

BAB II
PENYUTADARAAN DAN TEKNIK BERPERAN
1. PENYUTRADARAAN
• Sejarah timbulnya sutradara
• Tugas sutradara
2. TEKNIK BERPERAN
• Teknik berperan menurut Rendra
• Teknik Edward A. Wright
• Oscar Broket
• Constantin stanislavsky
• Richard boleslavsky
• Adjib hamzah

BAB III
PERLENGKAPAN PEMENTASAN
1. PERLENGKAPAN, PEMNTASAN UNTUK AKTOR ATAU AKTRIS
• Rias
• Tata pakaian
2. PERLENGKAPAN DI PENTAS
• Tata lampu
• Tata pentas dan dekorasi
• Ilustrasi musik dan tata suara
• Beberapa catatan tambahan

BAB IV
PENGAJARAN DRAMA
1. PROSES BELAJAR MENGAJAR
• Sleksi atau pemilihan materi
• Gradasi (urutan penahapan)
• Persentasi atau tyeknik penyampaian
• Repetisi
• Evaluasi dalam pengajaran drama
2. STRATEGI PENGAJARAN TEKS DRAMA ( SEBAGAI KARYA SASTRA)
• Strategi stratta
• Langkah –langkah penyajian
• Strategi induktif Model Taba
• Strategi analisis
• Strategi sinektik atau Model Gordon
• Role playing atau Bermain Peran
• Simulasi
3. STRATEGI PEMBELAJARAN DRAMA PENTAS
• Pementasan drama di kelas
• Pementasan drama oleh teater sekolah
• Teknik pembinaan apresiasi drama
• Catatan tambahan tentang pemilihan materi
BAB I
DRAMA DAN PERMASALAHANNYA
Perkataan ”drama” berasal dari bahasa yunani ”draomai” yang berarti: berbuat berlaku, bertindak atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan atau action. Dalam kehidupan sekarang, drama mengandung arti yang lebih luas ditinjau dari apakah drama salah satu genre sastra, ataukah drama itu sebagai cabang kesenian yang mandiri. Drama naskah merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan dengan puisi dan prosa. Drama pentas adalah jenis kesenian mandiri, yang merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti musik, tata lampu, kesenian lukis atau dekor, panggung, seni kostum seni rias dan sebagainya. Jika kita bicarakan dram pentas sebagai kesenian mandiri, maka ingatan kita dapat kita layangkan pada wayang, ketoprak, ludruk, lenong dan film. Dalam kesenian tersebut, naskah drama di ramu dengan berbagai unsur untuk membentuk kelengkapan.
Terminologi istilah drama biasanya di dasarkan pada wilayah pembicaraan, apaakah yang dimaksud drama naskah atau drama pentas. Drama naskah dapat diberi batasan sebagai salah satu jenis karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai kemungkinan di pentaskan. Moulton memberikan definisi drama (pentas) sebagai hidup manusia yang dilukiskan dengan action. Hidup manusia yang dilukiskan dengan action itu lebih dahulu dituliskan maka drama baik naskah maupun pentas berhubungan bahasa dan sastra. Telaah drama harus dikaitkan dengan sastra.

1. LAKON DAN KONFLIK MANUSIA
Dasar lakon drama adalah konflik manusia. Konflik itu lebih bersifat batin dari pada fisik. Konflik manusia itu sering juga dilukiskan secara fisik. Dalam wayang, wayang orang, ketoprak, dan juga ludruk akan kita saksikan bahwa klimaks dari pada konflik batin tu adalah bentrokan fisik yang diwujudkan dalam perang.
Konflik yang dipaparkan dalam lakon harus memiliki motif. Motif dari konflik yang dibangunm itu akan mewujudkan kejadian-kejadian. Motif dan kejadian-kejadian haruslah wajar dan realistis, artinya benar-benar diambil dari kehidupan manusia. Konflik yang muncul dari kehidupan manusia. Jika dalam wayang persoalan yang di jadiakn konflik adalah perebutan negara atau wanita, maka motif konflik dalam drama moderen janganlah negara atau wanita. Tokoh-tokoh wanita masa kini tidak akan berebut negara dan berebut wanita.

2. STRUKTUR DRAMA NASKAH
2. 1. PLOT atau krangka cerita
Plot merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik anatara dua tokoh yang berlawanan. Konflik itu berkembang karena kontradiksi para pelaku. sifat dua tokoh itu bertentangan, misalnya: kebaikan kontra dengan kejahatan, tokoh sopan kontra dengan tokoh berutal, tokoh pembela kebenaran kontra dengan bandit, tokoh kesatria kontra dengan penjahat, tokoh bermoral kontra dengan tokoh tidak bermoral, dan sebgainya. Konflik itu semakin lama semakin meningkat untuk kemudian mencapai titik kelimaks. Setelah klimaks lakon akan menuju penyelesaian.
Jalinan konflikj dalam plot itu biasanya meliputi hal-hal:
• Protasis atau jalinan awal
• Epitasio
• Catarsis
• Catasprophe (Aristoteles)

2. 2. Penokohan dan perwatakan
Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Susunan tokoh (drama personae) adalah daftar tokoh-tokoh yang berperan dalam tokoh itu dalam susunan tokoh ini yang terlebih dahulu dijeaskan adalah nama, umur, jenis kelamin, tipe fisik, jabatan dan keadaan kejiwaannya itu. Penulis lakon sudah menggambarkan perwatakan tokoh-tokohnya.
Watak tokoh itu akan menjadi nyata terbaca dalam dialog dan catatan samping. Jenis dan warna dialog akan menggambarkan watak tokoh itu. Dalam wayang kulit atau wayang orang, tokoh-tokohnya sudah memiliki watak yang khas, yang didukung pula dengan gerak-gerik, suara, panjang pendeknya dialog, jenis kalimat dan ungkapan yang digunakan.
2. 3. Dialog atau percakapan
Ciri khas suatu drama adalah naskah itu berbentuk cakapan atau dialog. Dalam menyusun dialog ini, pengarang harus benar-benar memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam kehidupan sehari-hari. Pembicaraan yang ditulis oleh pengarang naskah drama adalah pembicaraan yang akan diucapkan dan harus pantas untuk diucapkan diatas panggung. Bayangan pentas diatas panggung merupakan mimetik (tiruan) dari kehidupan sehari-hari, maka dialog yang ditulis juga mencerminkan pembicaraan sehari-hari.
Ragam bahasa dalam dialog tokoh-tokoh drama adalah bahasa lisan yang komunikatif dan bukan ragam bahasa tulis. Hal ini di sebab kan karena drama adalah potret kenyataan. Drama adalah kenyataan yang diangkat ke atas pentas, nuansa-nuansa dialog mungkin tidak lengkap dan akan dilengkapi dengan gerakan, musik, ekspresi wajah dan sebagainya. Dalam hal ini, kesempurnaan sebuah naskah drama akan terlihat setelah dipentaskan.
2. 4. Seting, landasan atau tempat kejadian
Seting atau tempat kejadian cerita sering pula disebut latar cerita. Penentuan ini harus secara cermat sebab drama naskah harus juga memberikan kemungkinan untuk dipentaskan. Seting biasanya meliput tiga dimensi yaitu tempat ruang dan waktu.
2. 5. Tema atau nada dasar cerita
Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Tema berhubungan dengan premis. Dari drama tersebut yang berhubungan pula dengan nada dasar dari sebuah drama dan sudut pandangan yang dikemukakan oleh pengarangnya sudut pandang ini, sering dihubungkan dengan aliran yang dianut oleh pengarang.
2. 6. Amanat pesan pengarang
Amanat yang hendak disampaikan pengarang melalui dramanya harus dicari oleh pembaca atau penonton. Seorang pengarang drama sadar atau tidak sadar pasti menyampaikan amanat dalam karyanga itu. Pembaca cukup teliti akan dapat menangkap apa yang tersirat dan yang tersurat. Jika karya sastra berhubungan denagn arti atau meaning dari karya sasra itu maka amanat berhubungan denagn makna atau significance dari karya sastra itu. Tema bersifat sangat lugas, objektif, dan khusus, sedangkan amanah bersifat kias, subjektif dan umum. Setiap pembaca dapat berbeda-beda menafsirkan makna karya sastra itu bagi dirinya, dan semua cendrung benar. Tema bersifat objektif. Ada drama yang bertema ketuhanan, perikemanusiaan, cinta, patriotisme, kritik sosial, renungan hidup dan sebagainya. Amanat yang khendak di sampaikan oleh pengarang perlu diberikan beberapa alternatif. Di dalam menafsirkan amanat itu, kita dapat bersikap akomodatif.
2. 7. Petunjuk teknis
Dalam naskah drama diperlukan juga petunjukj teknis, yang sering juga disebut teks samping dalam sandiwara radio, sandiwara televisi atau secanario film, kedudukan teks samping ini sangat penting. Teks samping ini memberikan petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana pentas, suara, musik, keluar masuknya aktor dan aktris, suasana pentas, keras lemahnya dialog, warna suara, perasan yang mendasari dialog dan sebagainya. Teks samping ini biasanya ditulis denag tulisan berbeda dari dialog (misalnya denag huruf miring atau huruf besar semua).
2. 8. Drama sebagai interprestasi kehidupan
Ulasan tentang interperstasi kehidupan erat hubungannya denagn nada dasar atau pandangan dasar penulis drama itu. Nada dasar drama bukan nada dasar penafsir atau sutradara. Dama sebagai tiruan atau mimetik terhadap kehidupan, berusaha memotret kehidupan secara real. Setiap pengarang tidak sama dalam menginterprestasikan sisi kehidupan. Ada pengarang yang memfokuskan pada segi keadilan, segi cinta kasih, segi kebobrokan moral, segi moral, segi digdagtsi,segi kepincangan dalam masyarakat, segi suka dan duka, dan sebagainya. Tontonan atau naskah yang dihasilkan akan ditentukan oleh bagaimana sikap penulis dalam menginterprestasikan kehidupan ini.

3. NASKAH- PENGARANG- PEMENTASAN – PENONTON
Naskah-naskah drama yang diutlis setahun 1930-an nilai sastranya cukup tinggi, tetapi kemungkinan pentasnya tidak meyakinkan. Naskah yang demikian bersifat komunikatif , bahasanya adalah bahasa yang hidup dalam masyarakat, bahasa speech-act. Nilai literer memang tidak boleh ditinggalkan, tetapi sifat komunikatif harus diperhatikan.
Keunggulan pada naskah drama adalah pada konflik yang dibangun. Konflik menentukan penanjakan-penanjakan kearah klimaks. Jawaban terhadap konflik itu akan melahirkan atau menghasilkan suspense dan kejutan. Tingkat keterampilan penulis dalam drama ditentukan oleh keterampilan menjalin konflik yang diwarnai oleh kejutan dan suspense yang belum pernah diciptakan pengarang lain.

4. PEMENTASAN DRAMA
Pementasan drama merupakan karya kolektif yang dikoordinasikan oleh sutradara, yaitu pekerja teater yang denagn kerja kecakapan dan keahliannya memimpin actor-aktris dan pekerja teknis dalam pementasan. Selain itu, adapula produser yang memberikan biaya pementasan dan menejer yang mengatur pelaksanaan pementasan. Biasanya sutradara tidak mampu merangkap sebagai manajer pementasan, demikian juga sutradara tidak mapu mengkoordinasikan seluruh teknisi. Untuk itu diadakan assisten sutradara yang bertugas membantu sutradara dalam menangani tugas koordinasi itu, sedangkan art directur membidangi hal-hal yang bersifat artistik (bukan teknis) seperti kostum, rias, lampu, sound effect dan sebagainya.
4. 1. AKTOR DAN CASTING
Aktor dan aktris merupakan tulang punggung pementasan. Dengan aktor-aktri yang tepat berpengalaman, dapat dimungkinkan pementasan yang bermutu jika naskah baik dan sutradaranya cakap. Tokoh seperti Teguh dari Srimulat, Usmar Ismail, Wim Umboh, Teguh Karya, Rendra dan Arifin C. Noer, mampu mengorbitkan calon aktor yang cukup tangguh dengan kemampuan yang memadai.
Pemilihan aktor-aktris biasa disebut casting.
Ada lima macam teknik casting yaitu
• Casting by Ability
• Casting to Tipe
• Anti Tipe Casting
• Casting to Emotional Temperament
• Terapeyutic Casting
4. 2. SUTRADARA
Sutradara memiliki tugas sentral yang berat dalam pementasan tidak hanya acting para pemain yang harus diurusnya, tetapi juga kebutuhan yang berhubungan dengan artistik dan teknis. Sutradara perlu memiliki technical know how tentang bidang teknis dan artistik pementasan meskipun untuk bidang ini dipercayakan orang lain.
4. 3. PENATA PENTAS
Untuk menghidupkan peran dipentas, peralatan teknis akan membantu. Peralatan tersebut meliputi: pengaturan pentas atau Stage, dekorasi (secenery) tata lampu (lighting), tata suara (sound sistem) dan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pentas.
4. 4. PENATA ARTISTIK
Untuk mengukur secara artistic hal-hal yang berhubungan dengan pementasan secara langsung, biasanya terdapat bagian artistic. Bagian artistik berhubungan dengan tata rias (make up), tata busana (costum), tata musik dan efek suara (music dan sound effect).

5. KLASIFIKASI DRAMA
Kalsifikasi drama didasarkan atas jenis streotipe manusia dan tanggapan manusia terhadap hidup[ dan kehidupan. Seorang pengarang drama dapat menghadapi kehidupan ini dari sisi yang menggembirakan dan sebaliknya dapat juga dari sisi yang menyedihkan. Dapat juga seseorang memberikan variasi antara sedih dan gembira mencampurkan dua sikap itu karena dalam kehidupan yang real manusia tidak selalu sedih dan tidak selalu gembira. Karya yang sering memadukan dua sikap hidup manusia itu dipandang merupakan karya yang lebih baik karena kenyataan hidup yang dijumpai memang demikian adanya.
5. 1. Tragedi atau drama duka atau duka cerita
Tragedi atau drama duka adalah drama yang melukiskan kisah sedih yang besar dan agung tokoh-tokohnya terlibat dalam bencana besar. Tokoh-tokoh tersebut dalam kisah bencana ini penulis nsakah mengharapkan agar penontonya memandang kehidupan secara optimis. Pengarang secara bervariasi ingin melukiskan keyakinannya tentang ketidak sempurnaanya manusia. Pengarang berusaha untuk menempatkan dirinya secara tepat dalam kemelut kehidupan manusia itu. Kenyataan hidup yang dilukiskan berwarna romantis atau idealistis, sebab itu lakon yang dilukiskan seringkali mengungkapkan kekecewaan hidup karena pengarang mengharapkan sesuatu yang sempurna atau yang paling baik dari hidup ini.

5. 2. Melodrama
Melodrama adalah lakon yang sentimental, dengan tokoh dan cerita yang mendebarkan hati dan mengharukan. Penggarapan alur dan penokohan yang kurang dipertimbangkan secara crmat, maka cerita yang dilebih-lebihkan sehingga kurang m,eyakinkan penonton.
Tokoh dalam melodrama adalah tokoh yang tidak ternama (bukan tokoh agung seperti dalam tragedi). Dalam kehidpan sehari-hari sebutan melodramatik kepada seseorang seringkali merendahkan martabat orang tersebut karena dianggap berperilaku yang melebih-lebihkan perasaanya. Drama-drama Hamlet dan Macbeth disampiung bersifat tragedi juga bersifat melodrama. Ada beberapa hal yang dilebih-lebihkan dalam kedua drama besar itu. Romeo dan Yuliet dipandang dari cintanya yang begitu tinggi juga dapat dinyatakan sebagai melodrama.
5. 3. Komedi atau drama ria
Komedi adalah drama ringan yang sifatnay menghibur dan didalamnya terdapat dialog kocak yang bersifat menyindir dan biasanya berakhir dengan kebahagiaan. Lelucon bukan tujuan utama dalam komedi, tetapi drama ini bersifat humor dan pengarangnya berharap akan menimbulkan kelucuan atau tawa riang. Kelucuan bukan tujaun utama, maka nilai dramatic dari komedi (meskipun bersifat ringan) masih tetap dipelihara. Nilai dramatik tidak dikorbankan untuk kepentingn untuk mencari kelucuan (“Geer”). Hal ini berbeda denagn dagelan atau farce yang mudah mengorbankan nilai dramatik dari lakon demi kepentingan mencari kelucuan itu.
5. 4. Dagelan Farce
Dagelan adalah banyolan. Seringkali jenis drama ini disebut dengan komedi murahan atau komedi picisan atau komedi ketengan. Sering pula disebut tontonan konyol atau tontonan murahan. Dagelan adalah drama kocak dan ringan dan tidak berdasarkan perkembangan struktur dramatik dan perkembangan cerita sang tokoh. Isi cerita dagelan ini biasanya kasar, lentur dan fulgar.

6. JENIS DAN KONSEPSI DRAMA DAN TEATER
6. 1. Jenis-jenis drama
• Drama pendidiakn
• Drama duka
• Drama ria
• Closed drama (drama yang dibaca)
• Drama teatrikal
• Drama romantik drama adat
• Drama liturgi
• Drama simbolis
• Drama monolog
• Drama lingkungan
• Komedi intrik
• Drama mini kata
• Drama radio
• Drama televisi
• Drama eksperimental
• Sosio drama
• Melodrama
• Drama Absurd
• Drama Improvisasi
• Drama sejarah
6. 2. Klasifikasi drama berdasarkan aliran
Sifat-sifat drama berdasarkan aliran tidak bercorak kaki tetapi hanya merupakan ciri pokok saja. Tidak ada drama yang seratus persen mengikuti salah satu aliran tertentu.
• Aliran Klasik
• Aliran Romantik
• Aliran Realisme
• Aliran Ekspresionisme
• Aliran Natularisme
• Aliran Eksistensialisme

BAB II
PENYUTADARAAN DAN TEKNIK BERPERAN
1. PENYUTRADARAAN
Penyutradaraan berhubungan denagn kerja sejak perencanaan pementasan, sampai pementasan terakhir. Dalam drama tradisional dan wayang, sutradara disebut “dalang” peranan sutradara dalam teater tradisional tidak sepenting dan sebesar peranan sutradara dalam teater moderen. Seluruh pementasan drama moderen adalah tanggung jawab sutradara. Dialog, acting dan segala kelengkapan pentas diatur oleh sutradara. Dalam teater tradisional, sutradara hanya memberikan instruksi secara garis besar. Tugas sutradara drama moderen disamping melatih mengkorsinasikan aktor atau aktris, juga memimpin urusan unsur pentas seperti: penta lampu, penata pentas, penata musik, penata pakaian,, dekolator dan petugas lainnya.

2. TEKNIK BERPERAN

2.1 Teknik berperan menurut Rendra
Teknik berperan menurut rendra menyebutkan bahwa dalam pementasan ada empat sumber gaya, yaitu actor atau bintang, sutradara, lingkungan dan penulis. Dalam hal teknik berperan ini diharapkan actor menjadi sumber gaya dalam pementasan drama. Dalam pengajaran di sekolah, sutradara (dalam hal ini guru drama), kiranya juga dapat menjadi sumber gaya. Dalam ketoprak drama moderen, penulis drama menjadi sumber gaya.
2.2 Teknik Edward A. Wright
Menurut teknik Edward A. Wright ada lima syarat yang harus dimiliki seorang calon actor yaitu
• Sensitif
• Sensible
• Kualitas persona yang memadai
• Daya imajinasi yang kuat
• Stamina fisik yang baik.
2.3 Oscar Broket
Menurut teknik Oscar Broket menyebutkan tujuh langkah dalam latihan beracting yaitu:
• Latihan tubuh
• Latihan suara
• Observasi dan imjinasi
• Latihan konsentrasi
• Latihan teknik
• Latihan system acting
• Latihan untuk memperlentur keterampilan (1965: 396)
2.4 Constantin Stanislavsky
Tokoh yang dikenal sebagai pelopor pendekatan metode atau pendekatan kreatif, yang mementingkan latihan sukma, memberikan pedoman untuk mempersiapkan seorang actor (Stanislavsky, 1980) dalam buku terjemahanya Aslu Sani dinyatakan lima belas tahap latihan yang harus di lalui.
2.5 Richard Boleslavsky
Menurut Richard Boleslavsky dikenal sebagi murid Stanisslavsky, mengembangkan teori Stanisslvsky. Boleslavsky lebih menitik beratkan pada pembinaan sukma.
2.6 Adjib hamzah
Hamzah menggaris bawahi Boleslavsky dan Stanisslvsky bahwa dalam latihan acting sangat perlu motivasi, pusat perhatian dan mimik. Ditambahkan olehnya actor atau aktris selaul menghindari over acting. Karena itu, sutradara harus senantiasa memimpin latihan untuk menghindari over acting tersebut.

BAB III
1. PERLENGKAPAN, PEMNTASAN UNTUK AKTOR ATAU AKTRIS
1.1 Rias
Tata rias adalah seni yang menggunakan bahasa kosmetika untuk menghasilkan atau menciptakan wajah peran, sesuai dengan tuntutan lakon. Fungsi pokok tata rias adalah merubah watak seseorang baik dari segi fisik, psikis dan sosial. Fungsi bantuan rias adalah untuk memberikan tekanan terhadap perannya. Jika rias menuntut berperan sebagai fungsi pokok maka, berarti mengubah diri aktor ke dalam peran yang lain dari dirinya sendiri. Peran rias ini akan dibantu oleh tata sinar dan jarak antara pentas dan penonton.
1.2 Tata pakaian
Seperti halnya rias, tata pakaian, membantu actor membawakan perannya sesuai dengan tuntutan lakon. Jika rias dan kostum agak asing, dan jumlahnya cukup banyak, diperlukan latihan penyesuaian diri denagn rias dan kostum tersebut ( misalnya; dalam ” Oedipus karya rendra, yang menggunakan topeng dan juba)
2. PERLENGKAPAN DI PENTAS
2.1 Tata lampu
Lampu dapat membantu pengaruh psikologis dan juga dapat berfungsi sebagai ilustrasi atau hiasan atau petunjuk waktu (pagi, sore) dan suasana pentas. Lampu yang digunakan hendaknya berwarna-warni, agar mampu memberikan efek psikologis-psikologis dan variasi. Di samping itu juga harus ada, pengaturan derajat ketajaman sinar atau voltase. Juru lampu harus membuat alat tata lampu ini semudah mungkin, sepraktis mungkin dan harus di sertai perencanaan tata lampu yang mendetail untuk satu lakon yang disiapkan atau ligting plot.
2.2 Tata pentas dan dekorasi
Tata pentas biasanya dipimpin oleh stage manager digunakan istilah pentas, karena pementasan drama tidak serlalu di panggung, sehingga istilah panggung tidak digunakan dalam kaitan ini. Pementasan dapat di panggung, dapat di area.
Mempelajari tata pentas tidak luput dari mempelajari bentuk dan kontruksi pentas dari berbagai kurun waktu. Secara umum peranan dan perlengkapan pentas tidak jauh berbeda, dalam kaitan dengan tujuan pentas itu.
2.3 Ilustrasi musik dan tata suara
Di pentas dipasang pengeras suara denag microphoneyang cukup memadai. Peran microphone ini sangat penting sebab jika lakon drama ada pada dialog. Jika microphone tidak cukup dan tidak kuat kepekaannya (sensitif) maka kegagalan akan terjadi karena dialog tidak dapat di dengar penonton. Pengeras suara sebaiknya menyewa yang cukup sensitif denag daya watt out put yang besar, selain itu di pasang microphon yang memadai sehingga dialog akan dapat didengar penonton.
2.4 Beberapa catatan tambahan
Putu widjaya menyatakan ada dua tokoh yang sangat berjasa dalam perkembangan teater moderen di indonesia saat ini, yaitu rendra dan arifin. C Noer. Rendra dengan bengkel teaternya dan arifin. C Noer dengan teater kecilnya, secara terus menerus dan konsisten kedua orang itu menggunakan teater dengan eksperimen-eksperimenya yang baru. Melalui kedua tangan tokoh tersebut munculah wajah-wajah baru dalam dunia teater Indonesia. Misalnya; Rian Tiarn, Azuar A.N, Putu Widjaya, Syubach Asa, ikra negara dan lain-lain.

BAB IV
1. PROSES BELAJAR MENGAJAR
Yang dimaksud dengan proses belajar mengjar adalah apa yang disebut ”Metode” oleh Mac key di dalamnya terdapat keseluruhan peristiwa seperti:
• Seleksi
• Grasi
• Prsentasi
• Repetisi
• evaluasi
1.1 Sleksi atau pemilihan materi
Seleksi maeri ditentukan oleh pengajaran ini. Untuk melatih keterampilan mana, konsep, informasi, prspektif, apresiasi atau justru tujuan pengajaran drama dapat mentaskan atau dapat mengadakan festival drama. Hal ini memerlukan sleksi materi, dalam hal jenis, panjang, mutu,tingkat kesulitan, jumlah pemain dan sebagainya.
1.2 Gradasi (urutan penahapan)
Debora Elkin menyatakan, bahwa latihan-latihan drama harus mengarah pada pementasan dan festival drama. Untuk pementasan drama hendaknya dimulai dari role flying atau (bermain peran). Role flying lebih baik jika bersumber pada hasil observasi terhadap suatu kejadian tertentu (misalnya; percakapan di terminal bis, rapat desa, transaksi dagang, peristiwa-peristiwa yang terjadi).
1.3 Persentasi atau teknik penyampaian
Untuk dapat menghayati naskah drama dengan lebih baik, dapat juga di berikan tugas menulis naskah drama kepada siswa. Penulisan juga dimulai denag naskah role flying kemudian naskah dari saduran cerita atau cerita populer dari karya sastra, dongeng atau film.
1.4 Repetisi
Materi yang sudah diberikan harus diulangi dalam bentuk ulasan guru atau tanya jawab, dapat juga berwujud resensi terhadap drama yang sudah dibaca, dilihat atau ditulis. Parafrase dari bentuk drama kedalam bentuk prosa, dapat juga merupakan repetisi, contohnya; mendiskusi, menonton ditempat lain, mementaskan sendiri (naskah) menulis drama dengan tema yang sama dan sebagainya merupakan repetisi.
1.5 Evaluasi dalam pengajaran drama
• Evaluasi untuk apresiasi drama dalam hal pemahaman naskah, pada hakikatnya sama dengan evaluasi dalam pengajaran sastra.
• Tes informasi merupakan tingkat tes paling rendah, sebab itu b utir soal yang lebih banyak
• Evaluasi dalam tugas individual dalam penampilan memerankan dalam suatu tokoh.
• Tugas kelompok dalam mementaskan role flying.

2. STRATEGI PENGAJARAN TEKS DRAMA ( SEBAGAI KARYA SASTRA)
2.1 Strategi stratta
Strategi ini diciptakan oleh leslie stratta dan dapat diterapkan untuk drama dan prosa fiksi.seperti setelah dibicarakan oleh I. G. A. Wardani dalam makalah pengajaran sastra ada tiga pengajaran yaitu: tahap penjelajahan, interprestasi dan rekreasi.
2.2 Langkah –langkah penyajian
Sebelum guru dapat mengajarkan satu dramadi dalam kelasia harus mengadakan dua macam persiapan yaitu memilih bahan yang cocok untuk kelasnya dan menyusun persiapan guna dapat mengajarkan dengan baik, sebelum ia siap untuk membawa bahan itu ke kelas.
2.3 Strategi induktif Model Taba
Model ini dikemukakan oleh Hilda Taba. Model pengajarannya bersifat induktif, dan biasanya strategi induktif cocok untuk pembahasan sastra. Data-data sastra dapat langsung diteliti siswa, kemudian diadakan penyimpulan-penyimpulan. Hal ini sesuai dengan pendekatan apresiasi yang telah dikemukakan hilda Taba yaitu mengembangkan model pengajaran yang berorientasi pada pengelolaan informasi.
2.4 Strategi analisis
Strategi ini dissebut strategi analisis karena menitik beratkan pada frase analisis terhadap tema sebagai hasil akhir, setelah penguraian penokohan, plot, hubungan sebab akibat dan sebagainya, yang kemudian disusul dengan pemahaman hal atau unsur yang abstrak dari naskah drama. S.H burton menyatakan bahwa yang harus dianalisis adalahmakna harfiah dari naskah, sikap pengarang terhadap tuliasnya dan pembacanya tujuan yang hendak dicapai melalui tulisannya, jenis, dan gaya tulisan tersebut.
2.5 Strategi sinektik atau Model Gordon
Strategi ini dikembangkan oleh Gordon dalam bukunya The Metaforical Way of Learning knowling. Dalam strategi ini dikombinasikan oleh beberapa unsure yang berbeda dan nyata. Treffenger memasukan metode ini dalam pembentukan kreatifitas pada tahap kedua.
2.6 Role playing atau Bermain Peran
Sebetulnya metode ini termasuk pementasan drama yang sangat sederhana. Peran diambil dari kehidupan nyata sehari-hari (bukan imajinatif). Dari aspek role flying dapat dicapai aspek perasaan, sikap, nilai, persepsi, keterampilan memecahkan masalah, dan pemahaman terhadap permasalahan pokok.
2.7 Simulasi
Arti sederhana dari simulasi adalah ”peniruan dari keadaan yang sebenarnya”. Dari masa orde baru simulasi ini banyak sekali digunakan untuk penataran P/04 dari tingkat kampung sampai tingkat nasional (penulis adalah manggala BP/07). Strategi simulasi adalah strategi untuk memberikan kemungkinan murid agar ia dapat menguasi suatu ketrampilan melalui latihan dalam situasi tiruan.

3. STRATEGI PEMBELAJARAN DRAMA PENTAS

3.1 Pementasan drama di kelas
Pementasan drama di kelas terkait pelajaran bahasa indonesia aspek sastra dapat berupa pementasan satu naskah drama oleh satu kelompok, dapat berupa kelompok atau kelompok-kelompok yang dibentuk dari seluruh murid di kelas. Pada waktu pementasan, murid yang tidak mendapatkan giliran berpentas dapat ditugasi sebagai pengamat. Yang dipentaskan tentulah drama-drama pendek denagn durasi 30 menit sampai 35 menit sehingga tersisa waktu diskusi dalam satu jam pelajaran. Jika ada jam pelajaran yang berurutan, dapat mementaskan drama denagn durasi 60 menit.
3.2 Pementasan drama oleh teater sekolah
Pementasan oleh teater sekolah dapat memilih teks drama karya dramawan dengan durasi lebih dari satu jam(rata-rata 90 menit sampai 180 menit). Untuk pementasan sekolah hendaknya di pilih naskah-naskah yang kominakatif, yang mudah dipahami, memiliki konflik batin yang kuat dan atraktif.
3.3 Teknik pembinaan apresiasi drama
Kata ”pembinaan” di sin dapat bermakna dua yaitu pembinaan hal yang sudah terlaksana supaya lebih baik, dan juga berarti membuat yang belum ada, menyelenggaraan pembinaan. Sulitnya naskah drama dan belum tentu setiap guru mampu menyutradarai drama menjadikan prospek pengajaran drama kurang memuaskan. Tanpa pembaca naskah sendiri oleh siswa dan menonton pertunjukan drama sendiri, maka pembinaan ini sulit dilakukan.
3.4 Catatan tambahan tentang pemilihan materi
Pemilihan bahan naskah drama untuk diajarkan memenuhi kriteria:
• Sesuai dan menarik bagi tingakat kematangan jiwa murid
• Jika tingkat kesulitan bahasanya sesuai untuk tingkat kemampuan bahasa murid yang akan menggunakannya.
• Bahasanya sedapat mungkin mengguankan bahasa yang standar kecuali kalau cerita mempermaslahkan penggunaan dialeg.
• Isinya tidak bertentangan denag haluan negara kita

Daftar pustaka
 Waluyo, herman. 2001. Drama teori dan pengajaranya. Yogyakarta: PT Hanindita Graha Widya.