Sikap dan perasaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pelajaran apapun, demikian pula dalam pembelajaran bahasa asing, pengaruhnya sangat besar. Ketidaknyamanan belajar bahasa asing, dirasakan oleh pembelajar karena keadaan kelas yang traumatik. Mereka menilai bahasa asing adalah pelajaran yang sangat sulit, namun di dalam kelas, mereka seakan tidak mendapatkan apa-apa dan akan cepat melupakan akan apa yang mereka pelajari di kelas. Selain mungkin mengenai kurikulum yang diterapkan, hal ini dapat juga disebabkan oleh kelemahan atau ketidakpekaan pengajar dan metode pengajarannya. Sehingga, saat ditanya bagaimana belajar bahasa asing menurut mereka, hanya satu jawaban yang diujarkan, “sulit”.

George Isaac Brown (1975) dalam bukunya The Live Classroom mengatakan bahwa terdapat dua macam keadaan kelas, yaitu kelas hidup dan kelas mati. Dalam kelas mati, pembelajaran bersifat mekanistik, rutin, ritual yang berlebihan, pasif, dan membosankan. Guru seperti robot dan siswa diumpamakan seperti sebuah wadah yang hanya bisa menerima dan menampung semua hal yang diberikan guru (di Maskowitz, 1978: 10). Kelas seperti ini tidak akan memberikan pengertian apapun tentang suatu mata pelajaran malah akan membuat siswa bosan dan pada akhirnya membenci pelajaran dan guru tersebut. Tentu saja tidak ada motivasi bagi mereka untuk mencapai prestasi yang memuaskan. Sedangkan kelas hidup penuh dengan kegiatan belajar dimana siswa berpartisipasi dengan antusias. Tiap siswa pun dihargai dan diperlakukan seperti manusia oleh gurunya, sehingga pembelajaran pun ikut hidup (ibid).

Inilah yang dinamakan pendekatan humanistik yang memperhatikan perasaan peserta didik. Pendekatan ini tentu saja berbeda dengan pendekatan kognitif dimana hasil yang dicapai pun akan sangat berbeda. Mahmoudi dan Snibbe (1974) mengadakan sebuah penelitian komparatif dimana mereka mengatur sedemikian rupa agar pengajar pada suatu kelas memberikan perhatian yang besar, kasih sayang, acceptance dan penghargaan pada siswa-siswinya, sedangkan kelas yang lain tidak. Hasil pada akhir semester menunjukkan meningkatnya prestasi nilai siswa dan menurunnya ketegangan kelas pada kelas pertama yang diberikan perhatian lebih dibanding kelas kedua (di Chastain, 1971).

Hal-hal penting yang harus diperhatikan setelah mengetahui cara kerja model di atas dan kaitannya dengan pengajaran adalah:

a. Idealnya, area terlebar adalah Area Terbuka/ Umum dimana anda dan orang di luar anda mengetahui banyak hal tentang anda, sehingga area lain lebih kecil. Hal ini bisa terjadi saat anda sering bercerita tentang diri anda pada orang lain sehingga akan ada masukan atau feedback yang anda terima dari orang lain. Hal ini sangat baik karena anda akan lebih mudah mengenali diri anda, termasuk segala kelebihan dan kekurangan.

b. Sehingga, semakin orang lain mengetahui diri anda, semakin sempit dan kecil Area Tersembunyi dan semakin besar dan lebar Area Terbuka anda.

c. Selanjutnya, area Titik Buta akan semakin mengecil bila orang di sekitar anda memberikan feedback tentang hal-hal yang tidak anda ketahui (tentang diri anda).

d. Saat proses bercerita, berbagi, dan saling memberikan feedback, maka anda bisa mengembangkan pandangan (insight) diri anda. Dan apa yang tidak anda ketahui tentang diri anda bisa terungkap. Tentu saja hal ini akan lebih memperluas Area Terbuka anda.

Dalam hal ini, teknik humanistik bertujuan untuk membuka Area Terbuka peserta didik agar tumbuh lebih percaya diri dan lebih mengenal dirinya melalui proses memberi dan menerima informasi tentang diri mereka dan orang lain. Teknik ini tentu saja dapat memberikan kenyamanan peserta didik saat berinteraksi di dalam kelas. Johari Window model sendiri adalah sebuah konsep yang dapat diterapkan di kelas oleh tenaga pendidik melalui hal-hal yang mungkin dianggap sepele, seperti: tidak berkata “salah” untuk jawaban atau pendapat yang dilontarkan peserta didik, namun diganti dengan “bagus, namun masih 30% benar” atau “sedikit lagi”, dll.; mencoba berinteraksi dengan peserta didik melalui obrolan ringan yang tujuannya mendekatkan jarak sosial antara guru dan siswa sehingga ketegangan akan sangat berkurang; memantau siswa tidak dari balik meja guru namun langsung mendekati meja siswa; dan masih banyak lagi.

Inti dari pengajaran humanistik ialah bahwa dalam pengajaran apapun, perasaan peserta didik adalah faktor yang harus ada dan harus diperhatikan, karena faktor tersebut mempunyai peran yang sangat berpengaruh. Selaras dengan hal tersebut, Hawley dan Hawley (1972) menambahkan bahwa pembelajaran tidak dapat dilaksanakan dengan baik tanpa adanya perhatian pada faktor emosional dan nilai-nilai yang dibawanya. Di lain pihak, pembelajaran juga tidak dapat dijalankan dengan kekosongan informasi. Oleh karena itu, kedua-duanya harus menjadi satu (di Maskowitz, 1978: 14).

Referensi:

Chastain, Kenneth. 1976. Developing Second-Language Skills: Theory to Practice. Chicago: Rand McNally Publishing Company.

Moskowitz, Gertrude. 1978. Caring and Sharing in the Foreign Language Class. Massachusetts: Heinle and Heinle Publishers.