JAKARTA, KOMPAS.com — Apa sesungguhnya yang membuat anak Anda terlihat betah di sekolah? Pentingkah itu buat Anda sebagai orangtua?
Perkembangan itu membuat dia selalu senang berada di sekolah, di antara guru dan teman-temannya. -Santi Maulizal

Pertanyaan itu sempat menggelitik benak para orangtua siswa yang mendengarnya. Gampang-gampang susah jawabnya, kata mereka. Ada yang bilang, sekolah yang bikin betah itu adalah sekolah yang bisa bikin anak selalu bersemangat ke sekolah. Main, itulah satu alasan penyemangatnya.

Ada juga orangtua yang sok serius, yang mengatakan, jika rapor anaknya bagus berarti anaknya betah sekolah di situ. Itu artinya, si anak rajin belajar, mudah menyerap pelajaran, dan bisa membuktikan hasilnya kepada orangtua. Betulkah?

“Buat saya yang penting dia selalu happy, baik itu ketika mau berangkat dan sepulang sekolah. Faktornya dia bisa begitu karena dua hal, fasilitas dan sistem pembelajarannya,” kata Santi Maulizal, (31), kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (5/2/2010).

Ibunda dari Aulia Tanisha Rakhel Maulizal, (7), yang duduk di bangku kelas I SDIT Ar Ridho, Pondok Kelapa, Jakarta Selatan, itu mengaku, awalnya ketika masih menggunakan jemputan sekolah, putrinya seperti tidak terlihat betah. Sekolah seperti dikejar waktu, kata dia. Kemudian setelah diantar sendiri, putrinya mulai berubah, terlihat lebih enjoy berangkat ke sekolah.

“Perkembangannya dari hari ke hari, itu yang terpenting, dan perkembangan itu membuat dia selalu senang berada di sekolah, di antara guru dan teman-temannya,” kata dia.

Santi menuturkan, minat anaknya pun terlihat tidak hanya pada akademik, tetapi juga pada hobinya menyanyi dan menari. “Rakhel juga hobi menulis surat, sampai-sampai kepada saya dan suami saya juga dia menulis surat dan saya lihat ini adalah perkembangan yang dia dapatkan dari pembiasaan menulis di sekolahnya,” ujarnya.

Penuturan Renitasari (36) lain lagi. Tahun lalu ia mengaku sempat deg-degan setelah akhirnya memutuskan untuk memasukkan putrinya ke sebuah boarding school di kawasan Parung, Bogor. Alasannya, kata Renita, dia ingin anaknya bisa mandiri.

“Takutnya anak saya tidak betah. Itu sempat kepikiran lama juga saat awal-awal dia sekolah. Maklumlah, dia kan harus tinggal di asrama,” ucap Renita.

Sampai akhirnya, kata Renita, ia terheran-heran melihat perkembangan anaknya hanya dalam waktu tiga bulan. Selain lebih dewasa dalam berpikir, anaknya juga tampak senang tiap pulang dua minggu sekali untuk bertemu dengannya.

“Mungkin karena ia memang sudah cocok sekali dengan sistem sekolahnya di situ. Kemandiriannya tampak terbentuk, rasa tanggung jawabnya pun terlihat ketika dia pulang ke rumah,” ujarnya.

Renita mengakui, betah atau tidaknya si anak sekolah adalah indikasi keberhasilan orangtua dan sekolah memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Hanya saja, pola asuh anak-anak, baik di rumah maupun di sekolah, harus sama.

“Kalau tidak, anak tidak akan betah berlama-lama di sekolah, apalagi berada di rumah. Itu artinya pendidikan yang didapatkannya tidak seimbang. Maka, kalau saya lihat, konsep sekolah itu tidak hanya harus belajar, tetapi juga bermain dan berinteraksi,” tambahnya.