TUJUAN, KEGUNAAN, DAN SASARAN EVALUASI KEMAMPUAN BAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Sebagai suatu proses yang digunakan untuk mengetahui hasil dari sebuah kegiatan belajar-mengajar. Perlu adanya tujuan-tujuan yang menjadi fundamen dari sebuah kegiatan. Agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang fatal. Dalam hal ini, Soenardi Djiwandono menjelaskan bahwa ”Tujuan dan kegunaan evaluasi hasil pembelajaran dianggap paling erat kaitannya dengan gambaran tentang tingkat kemampuan yang dapat dicapai pada akhir penyelenggaraan suatu pembelajaran, dengan kata lain evaluasi hasil pembelajaran dimaksudkan untuk memperoleh umpan balik bagi keseluruhan rangkaian penyelenggaraan pembelajaran, yaitu bagi kedua komponen pembelajaran yang lain, baik secara langsung terhadap komponen penyelenggaraan pembelajaran, maupun secara tidak langsung bahkan terhadap komponen tujuan pembelajaran. Umpan balik itu berupa nilai yang dihasilkan oleh kegiatan evaluasi yang dapat memiliki manfaat ganda di luar manfaat bagi pembelajar dalam bentuk tingkat keberhasilannya belajar.”
Sejalan dengan pendapat tersebut, Oemar Hamalik menjelaskan tujuan-tujuan dari evaluasi hasil belajar secara lebih rinci sebagai berikut:
1. Memberikan informasi tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajar melalui berbagai kegiatan belajar.
2. Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk membina kegiatan-kegiatan belajar siswa lebih lanjut, baik keseluruhan kelas maupun masing-masing individu.
3. Memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendorong motivasi belajar siswa dengan cara mengenal kemajuannya sendiri dan merangsangnya untuk melakukan upaya perbaikan.
4. Memberikan informasi tentang semua aspek tingkah laku siswa, sehingga guru dapat membantu perkembangannya menjadi warga masyarakat dan pribadi yang berkualitas.
5. Memberikan informasi yang tepat untuk membimbing siswa memilih sekolah, atau jabatan yang sesuai dengan kecakapan, minat dan bakatnya.
Dalam penyelenggaran pengajaran bahasa yang tidak berbeda memiliki ciri-ciri dan komponen yang sama dengan penyelenggaraan pengajaran di bidang-bidang lain, tes bahasa juga memiliki tujuan yang sama dengan dengan tes bidang lain dalam penyelenggaraan pembelajaran. Soenardi Djiwandono menjelaskan tujuan-tujuan dari penyelenggaraan tes bahasa yang dapat memberikan informasi sebagai berikut:

Informasi tentang hasil belajar siswa yang dapat diperoleh melalui tes bahasa, yaitu berkaitan dengan tingkat keberhasilan belajarnya. Dari nilai tes bahasa ini, dapat diketahui tingkat penguasaan bahasa yang cukup terhadap materi yang telah diajarkan. Dari hal ini pula, dapat diketahui kesulitan yang dialami siswa dalam belajar bahasa.
Informasi lain yang dapat diperoleh dari hasil tes bahasa berkaitan dengan pennyelenggaraan pengajaran secara keseluruhan, atau bagian-bagiannya. Tingkat penguasaan bahasa yang rendah, seperti terlihat pada hasil tes bahasa, dapat menunjukkan adanya kekurangan pada penyelenggaraan pengajarannya, atau pada bagian-bagiannya. Kekurangan itu mungkin terdapat pada satu atau beberapa bagian penyelenggaraannya, seperti: bahan pengajaran yang kurang sesuai, guru yang kurang pandai mengajar, latihan yang kurang mencukupi, waktu pengajaran yang kurang, siswa yang kurang pandai atau kurang rajin, dan sebagainya. Semua itu dapat mengakibatkan rendahnya tingkat penguasaan bahasa sebagai hasil pengajaran, seperti tercermin pada rendahnya hasil tes bahasa.

Dari berbagai tujuan yang telah dijabarkan sebagai komponen utama dalam bentuk tujuan-tujuan yang lebih khusus, yang hendak dicapai dan diwujudkan dalam pembelajaran. Rumusan tujuan itulah yang digunakan sebagai acuan dalam merencanakan dan menyelenggarakan kegiatan pembelajaran, ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah diidentifikasi dan telah dirumuskan.

SASARAN EVALUASI KEMAMPUAN BAHASA
Pertanyaan pokok sebelum melakukan penilaian adalah apa yang akan dinilai. Evaluasi merupakan sebuah rangkaian proses yang menjadi trilogi dari desain penyelenggaraan pembelajaran. Dalam pelaksaan pembelajaran, objek yang dikaji adalah siswa. Siswa merupakan pribadi yang unik dan kompleks, maka ada bagian-bagian tertentu yang akan menjadi sasaran dalam kajian evaluasi hasil belajar. Dengan adanya sasaran inilah, maka dapat diketahui dengan jelas hasil atau perubahan yang terjadi setelah proses pembelajaran berlangsung.
Oemardi Hamalik dalam bukunya yang berjudul Kurikulum dan Pembelajaran menjelaskan bidang-bidang yang menjadi sasaran evaluasi hasil belajar secara umum, yaitu:

Ranah Kognitif ( pengetahuna/pemahaman )

Penilaian terhadap pengetahuan pada tingkat satuan pelajaran menuntut perumusan secara lebih khusus setiap aspek pengetahuan, yang dikategorikan sebagai: konsep, prosedur, fakta, dan prinsip. Tiap kategori dirinci menjadi suatu struktur dan urutan tertentu, misalnya dari konsep sederhana yang menuju konsep-konsep yang lebih kompleks. Dengan struktur tersebut dapat ditentukan urutan pelajaran dan isi pelajaran, sebagaiman yang telah dirumuskan dalam satuan pelajaran.
Untuk menilai pengetahuan siswa, dapat digunakan pengujian sebagi berikut:
a. Sasaran penilaian aspek pengenalan (recognition)
Caranya, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan bentuk pilihan berganda, yang menuntut siswa agar melakukan identifikasi tentang fakta, definisi, contoh-contoh yang betul (correct).
b. Sasaran penilaian aspek mengingat kembali (recal)
Caranya, dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka tertutup langsung untuk mengungkapkan jawaban-jawaban yang unik.
c. Sasaran penilaian aspek pemahaman (komprehension)
Caranya, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut identifikasi terhadap pernyataan-pernyataan yang betul dan yang kelim konklusi atau klasifikasi; dengan daftar pertanyaan matching (menjodohkan) yang berkenaan dengan konsep, contoh, aturan, penerapan, langkah-langkah dan urutan, dengan pertanyaan bentuk essay (open ended) yang menghendaki uraian, perumusan kembali dengan kata-kata sendiri, contoh-contoh.

Ranah Afektif

Sasaran evaluasi ranah afektif (sikap dan nilai) meliputi aspek sebagai berikut:

Aspek penerimaan, yakni kesadaran peka terhadap gejala dan stimulus atau gejala tersebut.
Sambutan, yakni aktif mengikuti dan melaksanakan sendiri suatu gejala disamping menyadari/menerimanya.
Aspek penilaian, yakni perilaku menginternalisasi, mengorganisasi, dan memantapkan interaksi antara lain-lain dan menjadikannya sebagi suatu pendirian yang teguh.
Aspek karakteristik diri dengan suatu nilai atau kompleks nilai, ialah menginternalisasikan suatu nilai ke dalam sistem nilai dalam diri individu yang berperilaku konsisten dengan sistem nilai tersebut.

Ranah dan aspek tiap ranah yang akan diukur, masing-masing dirinci menjadi sebuah karakteristik, selanjutnya tiap karakteristik dijabarkan menjadi sejumlah atribut. Tiap atribuut diberikan indikator sebagai petunjuk perubahan perilaku. Berdasarkan atribut-atribut tersebut dapat disusun pertanyaan-pertanyaan untuk pengukuran.

Ranah Keterampilan

Sasaran evaluasi keterampilan reproduktif adalah:

Aspek keterampilan kognitif, misalnya masalah-masalah yang familier untuk dipecahkan dalam rangka menentukan ukuran-ukuran ketepatan dan kecepatan melalui latihan-latihan (drill) jangka panjang, evaluasi dilakukan dengan metode-metode objektif tertutup.
Aspek keterampilan psikomotorik dengan tes tindakan terdapat pelaksanaan tugas yang nyata atau yang disimulasikan, dan berdasarkan kriteria ketetapan, kecepatan, kualitas penerapan secara objektif. Contoh: latihan mengetik, keterampilan menjalankan mesin, dan lain-lain.
Aspek keterampilan reaktif, dilaksanakan secara langsung dengan pengamatan objektif terhadap tingkah laku pendekatan atau penghindaran; secara tak langsung dengan kuesioner sikap.
Aspek keterampilan interaktif, secara langsung dengan menghitung frekuensi kebiasaan dan cara-cara yan baik yang dipertunjukkan pada kondisi-kondisi tertentu.

Sasaran evaluasi keterampilan produktif adalah:
a. Aspek keterampilan kognitif, misalnya masalah-masalah yang tidak familier untuk dipecahkan dan pemecahannya tidak begitu rumit, dengan menggunakan metode terbuka tertutup (open ended method).
b. Aspek keterampilan psikomotorik, yakni tugas-tugas produktif yang menuntut perencanaan strategi. Evaluasi terhadap hasil dan proses perencanaan ialah dengan observasi dan diskusi.
c. Aspek keterampilan reaktif, secara langsung mengamati sistem nilai masyarakat dalam tidakannya di luar sekolah.
d. Aspek keterampilan interaktif dengan observasi keterampilan dalam situasi senyatanya.

Pendapat dari hamalik di atas, dikuatakan oleh Horward Kingsley dalam Nana Sudjana, yang membagi tiga macam hasil belajar, yakni 1) keterampilan dan kebiasaan, 2) pengetahuan dan pengertian, 3) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yan telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne dalam Nana Sudjana juga, membagi hasil belajar dalam lima kategori, yakni 1) informasi verbal, 2) keterampilan intelektual, 3) strategi kognitif, 4) sikap, dan 5) keterampilan motoris. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, aranah afektif, dan ranah psikomotorik.
Untuk kajian bidang kebahasaan, Soenardi Djiwandono menjelaskan sasaran utama penyelenggaraan evaluasi kemampuan bahasa adalah tingkat kemampuan menggunakan bahasa. Aspek kebahasaan yang dimaksud itu meliputi kemampuan menyimak, kemampuan membaca, kemampuan berbicara dan kemampuan menulis.
Kemampuan menyimak mengacu pada kemampuan untuk memahami segala sesuatu yang diungkapkan orang lain secara lisan dalam bentuk kata-kata lepas, wacana pendek lewat kalimat, atau wacana yang lebih panjang seperti paparan lisan, pidato, kuliah dan lain-lain.
Kemampuan membaca menunjuk pada kemampuan untuk memahami maksud dan pikiran orang yang diungkapkan secara tertulis dalam bentuk catatan singkat, surat, artikel surat kabar, cerita pendek, novel, dan lain-lain.
Kemampuan berbicara berupa kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dan isi hati seseorang melalui bunyi-bunyi bahasa dan kata-kata yang dirangkai dalam susunan bahasa yang lebih lengkap seperti frasa kalimat, dan wacana lisan yang lebih panjang seperti cerita, pidato, dan lain-lain.
Kemampuan menulis adalah kemampuan untuk mengungkapkan diri melalui kata-kata dan kalimat yang disampaikan secara tertulis.
Dalam kajian kebahasan, kemampuan berbahasa dibedakan ke dalam kompetensi berbahasa dan keterampilan berbahasa. Kompetensi berbahasa mengacu pada kemampuan yang bersifat abstrak, berupa potensi yang dimiliki seorang pemakai bahasa. Keterampilan berbahasa bersifat kongkret dan mengacu kepada penggunaan bahasa senyatanya, dalam bentuk lisan yang dapat didengar, atau dalam bentuk tertulis yang dapat dibaca. Semua itu merupakan sasaran tes bahasa, yang merupakan bagian dari kajian kebahasaan, khususnya kajian kebahasaan terapan.
Kemampuan berbahasa mengacu pada kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kemampuan berbahasa yang baik, seseorang akan dengan mudah mengungkapkan pikiran, ide, dan pendapatnya dengan tepat. Dengan kemampuan berbahasa yang benar, diharapkan apa yang dimaksudkan dapat dimengerti dan diterima oleh orang lain.Tes kemampuan bahasa dapat dibedakan menjadi dua sasaran utamanya, yaitu pertama, kemapuan berbahasa yang meliputi kemampuan menulis, kemampuan membaca, kemampuan menyimak, dan kemampuan berbicara. Kedua, komponen bahasa yang meliputi bunyi bahasa, kosakata, dan tatabahasa.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sasaran evaluasi kemampuan bahasa adalah tingkat kemampuan berbahasa siswa. Baik dari segi kemampuan menggunakan bahasa yang berkaitan dengan aspek kebahasaan, seperti kemampuan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Maupun dari segi kemampuan siswa dalam menerapkan komponen-komponen kebahasaan, seperti EYD, tatabahasa, dan bunyi bahasa. Disamping itu sasaran evaluasi dilihat dari bidang-bidang yang menjadi sasaran evaluasi hasil belajar secara umum, mencakup berbagai bidang yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.
sumber @situsbahasa.info

About these ads