KAJIAN STILISTIKA PUISI “DOA DI MEDAN LAGA” DAN KAJIAN SEMIOTIK PUISI “TAMU” KARYA SUBAGIO SASTROWARDOYO

Kajian Stilistika Puisi “Doa di Medan Laga” Karya Subagio Sastrowardoyo

Doa di Medan Laga

Berilah kekuatan sekeras baja
Untuk menghadapi dunia ini, untuk melayani zaman ini
Berilah kesabaran seluas angkasa
Untuk mengatasi siksaan ini, untuk melupakan derita ini
Berilah kemauan sekuat garuda
Untuk melawan kekejaman ini, untuk menolak penindasan ini
Berilah perasaan selembut sutra
Untuk menjaga peradaban ini, untuk mempertahankan kemanusiaan ini

(Sastrowardoyo, 1982: 24)

Stilistika merupakan ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek keindahannya. Analisis stilistika lazimnya untuk menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya. Kajian stilistika menyangkut style ‘gaya bahasa’ pengarang. Style ‘gaya bahasa’ adalah cara mengungkapkan gagasan dan perasaan dengan bahasa khas sesuai dengan kreativitas, kepribadian, dan karakter pengarang untuk mencapai efek tertentu, yakni efek estetik atau efek kepuitisan dan efek penciptaan makna. (Al-Ma’ruf: 2009)
Aspek gaya bahasa meliputi, bunyi, kata, dan kalimat. Bunyi meliputi asosiasi, alitrasi, pola persajakan, orkestrasi dan iramanya, kata meliputi aspek morfologi, sematik dan etimologi, dan kalimat meliputi gaya kalimat dan sarana retorika.
Kajian stilistika puisi “Doa di Medan Laga” bertujuan untuk mengetahui style ‘gaya bahasa’ yang digunakan oleh pengarang. Kajian stilistika dibagi dalam empat aspek yakni gaya bunyi, gaya kata (diksi), gaya kalimat, dan citraan.

1.Gaya Bunyi
Puisi “Doa di Medan Laga” secara keseluruhan didominasi oleh adanya bunyi vokal /a/ dan /i/. Sedangkan bunyi konsonan yang dominan yaitu bunyi /k/ dan /t/. Asonansi a terdapat pada baris ganjil yaitu baris 1, 3, 5, dan 7. Misalnya, pada baris pertama yaitu: Berilah kekuatan sekeras baja, pada baris ketiga: Berilah kesabaran seluas angkasa. Asonansi i terdapat pada baris genap yaitu baris 2, 4, 6, dan 8. Misalnya, pada baris kedua yaitu: Untuk menghadapi dunia ini, untuk melayani zaman ini, pada baris keempat: Untuk mengatasi siksaan ini, untuk melupakan derita ini.
Asonansi a pada baris ganjil dan asonansi i pada garis genap mengesankan bahwa puisi ini mempunyai irama yang tetap dan teratur yakni irama vokal aiaiaiai.
Pada baris pertama dijumpai aliterasi k (kekuatan, sekeras). Aliterasi k juga terdapat pada baris 3 dan 5, yakni pada kata: kesabaran, angkasa dan kemauan, sekuat. Aliterasi s terdapat pada baris ketujuh yaitu: perasaan, selembut, dan sutra.
Selain asonansi dan aliterasi, terdapat pengulangan rima yang teratur yang disusun oleh penyair. Pada baris ganjil berakhiran bunyi vokal yang sama yaitu vokal a dan pada baris genap berakhiran bunyi vokal yang sama yaitu vokal i sehingga rima puisi tersebut mempunyai rima yang teratur yaitu abab. Penggunaan gaya bunyi dengan variasi dan rima pada puisi tersebut menimbulkan sebuah irama yang menciptakan efoni yang indah dan mengesankan.
Selain itu, secara keseluruhan puisi terdapat kakofoni (cacophony) yaitu bunyi yang tidak merdu dengan ditandai adanya dominasi bunyi k, p, t, s, seperti pada kata: kekuatan, sekeras, kesabaran, untuk, mengatasi, siksaan, kekejaman, dan penindasan. Adanya kakofoni tersebut memberikan imajinasi suasana kacau, tidak teratur, dan tidak menyenangkan. Dengan kesan imajinasi seperti itu penyair hendak menyampaikan gagasannya.

2.Gaya Kata (Diksi)
Kata-kata dalam puisi “Doa di Medan Laga” secara denotatif mudah dipahami karena kata-kata yang digunakan adalah kata-kata biasa yang sering digunakan atau didengar orang. Apabila dibaca bersambung, bait-baitnya menyatu membentuk sebuah narasi. Dalam kesendiriannya, masing-masing kata mudah dipahami makna denotatifnya, namun secara keseluruhan narasi puisi tersebut susah untuk dipahami. Hal ini karena penggunaan kata dalam puisi tersebut tidak semata-mata mengandung makna denotatif. Penyair menggunakan kata-kata tersebut untuk mengungkapkan sesuatu. Sesuatu itulah yang dinamakan makna konotatif. Jadi, penggunaan kata konotatif dilakukan untuk menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Penggunaan kata konotatif juga untuk menciptakan efek estetis.
Sesuai dengan judulnya, puisi tersebut banyak menggunakan kata permintaan yaitu berilah. Tiap baris ganjil diawali kata berilah. Sedangkan pada baris genap diawali kata untuk. Kata untuk juga terdapat pada awal klausa kedua pada setiap baris genap. Sehingga dalam puisi tersebut terdapat 4 kata berilah dan 8 kata untuk. Selain adanya repetisi kata berilah dan untuk, terdapat repetisi yang lain yaitu kata ini. Terdapat delapan kata ini pada puisi tersebut. Kata ini terdapat pada akhir masing-masing klausa di setiap baris genap. Dengan demikian kata untuk dan ini mengapit setiap klausa pada baris genap. Hal ini menciptakan irama yang teratur dan mengesankan ketika diucapkan.
…………..
Untuk menghadapi dunia ini, untuk melayani zaman ini
…………..
Untuk mengatasi siksaan ini, untuk melupakan derita ini
…………..
Untuk melawan kekejaman ini, untuk menolak penindasan ini
…………..
Untuk menjaga peradaban ini, untuk mempertahankan kemanusiaan ini

Selain repetisi juga terdapat beberapa sinonim yaitu sebagai berikut:
siksaan, kekejaman, dan penindasan.
menghadapi, melayani, dan mengatasi
melawan dan menolak
menjaga dan mempertahankan

Pemilihan kata pada baris genap tidak terlepas dari kata yang digunakan pada baris ganjil. Misalnya pada baris pertama penyair meminta kekuatan sekeras baja, maka pada baris kedua kata menghadapi dunia dan melayani zaman dirasa sangat cocok konteksnya. Pada baris ketiga dan keempat penyair meminta kesabaran seluas angkasa yang akan digunakan untuk mengatasi siksaan dan melupakan derita. Pada baris kelima dan keenam penyair meminta kemauan sekuat garuda untuk melawan kekejaman dan menolak penindasan. Baris ketujuh dan kedelapan penyair meminta perasaan selembut sutra untuk menjaga peradaban dan mempertahankan kemanusiaan. Dari hal itu terlihat pemilihan kata yang tepat sekali yang digunakan oleh penyair.
Pilihan kata (diksi) dalam puisi “Doa di Medan Laga” mempunyai efek sedih, berat, tragis, dan adanya harapan. Hal itu dapat terlihat dari penggunaan kata: menghadapi, melayani, mengatasi, melupakan, melawan, menolak, menjaga, mempertahankan, penindasan, kekejaman, siksaan. Sedangkan adanya harapan terlihat dari apa yang diminta oleh penyair yaitu: kekuatan sekeras baja, kesabaran seluas angkasa,kemauan sekuat garuda, perasaan selembut sutra.
Kesimpulan dari analisis gaya kata adalah puisi “Doa di Medan Laga” selain menggunakan kata denotatif juga menggunakan kata konotatif untuk mengungkapkan gagasan dan untuk mencapai efek estetis. Penyair banyak menggunakan pengulangan kata (repetisi) untuk menciptakan irama teratur yang indah. Selain itu, penyair juga menggunakan pilihan kata yang menciptakan efek sedih, berat, tragis, dan adanya harapan.

3.Gaya Kalimat
Salah satu ciri khusus puisi adalah pemadatan kalimat –meskipun tidak mutlak. Kepadatan kalimat dalam puisi “Doa di Medan Laga” terlihat dari bait-baitnya yang dipandang dari sudut gramatikal merupakan kalimat yang tidak sempurna. Pemadatan kalimat dilakukan dengan menghilangkan kata-kata yang dianggap kurang penting dalam menyampaikan gagasan penyair. Pemadatan kalimat dalam empat bait pertama adalah sebagai berikut.

(Ya, Tuhan) Berilah (aku/hamba) kekuatan sekeras baja
Untuk menghadapi dunia ini, (dan) untuk melayani zaman ini
(Ya, Tuhan) Berilah (aku/hamba) kesabaran seluas angkasa
Untuk mengatasi siksaan ini, (dan) untuk melupakan derita ini
(Ya, Tuhan) Berilah (aku/hamba) kemauan sekuat garuda
Untuk melawan kekejaman ini, (dan) untuk menolak penindasan ini
(Ya, Tuhan) Berilah (aku/hamba) perasaan selembut sutra
Untuk menjaga peradaban ini, (dan) untuk mempertahankan kemanusiaan ini

Pemadatan kalimat tersebut dilakukan agar kalimat menjadi ringkas dan efektif serta dapat tercipta sebuah irama kata yang indah. Pembaca puisi dianggap sudah mengetahui atau minimal menduga-duga kata-kata yang dihilangkan dalam puisi sehingga kalimat menjadi padat.
Pada baris ganjil, penyair menggunakan klausa bentuk permintaan dengan ditandai kata berilah. Sedangkan baris genap yang terdiri dari dua klausa merupakan klausa-klausa lanjutan dari baris ganjil. Sehingga dua baris (ganjil dan genap) menghasilkan satu kalimat. Baris genap merupakan klausa keterangan tujuan dari klausa baris ganjil. Contohnya adalah sebagai berikut:

(Ya, Tuhan) berilah (aku/hamba) kekuatan sekeras baja untuk menghadapi dunia ini, (dan) untuk melayani zaman ini.

(Ya, Tuhan) berilah (aku/hamba) kesabaran seluas angkasa untuk mengatasi siksaan ini, (dan) untuk melupakan derita ini.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa puisi “Doa di Medan Laga” terdapat kalimat-kalimat yang mengalami pemadatan. Pemadatan kalimat tersebut tidak mengganggu hubungan antarkalimat atau antarbait. Pemadatan kalimat tersebut dilakukan agar kalimat menjadi ringkas dan efektif serta bertujuan untuk mencapai efek estetis. Selain itu, dalam keseluruhan bait terdapat empat kalimat (yang hampir sempurna secara gramarikal) dengan masing-masing kalimat mempunyai tiga klausa. Klausa pertama terdapat pada baris ganjil dan klausa kedua dan ketiga terdapat pada baris genap. Penggunaan kalimat dan klausa yang teratur tersebut semakin menambah irama puisi yang teratur dan indah.

4.Citraan
Citraan dalam karya sastra berperan untuk menimbulkan pembayangan imajinatif bagi pembaca. Pada dasarnya citraan kata terefleksi melalui bahasa kias. Citraan kata meliputi penggunaan bahasa untuk menggambarkan objek-objek, tindakan, perasaan, pikiran, ide, pernyataan, dan setiap pengalaman indera yang istimewa. Citraan dibuat dengan pemilihan kata (diksi). Jenis-jenis citraan antara lain: citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan gerakan, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan pencecapan, dan citraan intelektual. (Al-Ma’ruf: 2009)
Dalam puisi “Doa di Medan Laga” penyair memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imaji pembaca melalui ungkapan yang tidak langsung. Citraan visual (penglihatan) terlihat pada baris 1, 3, 5, dan 7, yaitu baja, angkasa, garuda, dan sutra. Citraan perabaan terdapat pada baris 1 dan 7, yaitu kata sekeras dan selembut. Keras dan lembut dapat dirasakan dengan indera perabaan.
Kesimpulannya adalah puisi “Doa di Medan Laga” memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imaji pembaca dalam merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Citraan membantu pembaca dalam menghayati makna puisi. Puisi “Doa di Medan Laga” memanfaatkan citraan visual (penglihatan) dan citraan perabaan.

Kajian Semiotik Puisi “Tamu”
Karya Subagio Sastrowardoyo

Tamu

Lelaki yang mengetuk pintu pagi hari
sudah duduk di ruang tamu. Aku baru
bangun. Tapi rupanya ia tidak
merasa tersinggung waktu aku belum
mandi dan menemui dia. Rambutku masih
kusut dan pakaianku hanya baju kumal
dan sarung lusuh.
“Aku mau menjemput,” katanya pasti,
seolah-olah aku sudah berjanji sebelumnya
dan tahu apa rencananya.
“Bukankah ini terlalu pagi?” tanyaku ragu.
“Dia sudah menunggu!” Ia nampak tak sabar
dan tak senang dibantah. Aku belum tahu
siapa yang ia maksudkan dengan “dia”,
tetapi sudah bisa kuduga siapa.
“Tetapi aku perlu waktu untuk berpisah
dengan keluarga. Terlalu kejam untuk
meninggalkan mereka begitu saja. Mereka
akan mencari.”
Nampaknya tamu itu begitu angkuh seperti
tak mau dikecilkan arti. Siapa dapat lolos
dari tuntutannya.
Sebelum aku sempat berbenah diri ia telah
menyeret aku ke kendaraannya dan aku dibawanya
lari entah ke mana. ke sorga atau ke neraka?”

Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Dalam lapangan kritik sastra, penelitian semiotik meliputi analisis sastra sebagai sebuah penggunaan bahasa yang bergantung pada (ditentukan) konvensi-konvensi tambahan dan meneliti ciri-ciri (sifat-sifat) yang menyebabkan bermacam-macam cara (modus) agar wacana mempunyai makna (Preminger dalamPradopo, 2008: 119).
Hal ini berarti penekanan pendekatan semiotik adalah pemahaman makna karya sastra melalui tanda-tanda dalam karya sastra. Peirce (dalam Nurgiantoro, 2007: 42) membedakan hubungan antara tanda dengan acuannya ke dalam tiga jenis hubungan, yaitu: (1) Ikon, adalah tanda yang menggunakan kesamaan atau ciri-ciri yang sama dengan apa yang dimaksudkannya. Misalnya kesamaan potret dengan dengan orang yang diambil fotonya, atau kesamaan peta dengan wilayah geografi yang digambarkannya; (2) Indeks, adalah suatu tanda yang memiliki kaitan kausal dengan apa yang diwakilinya. Misalnya asap merupakan tanda adanya api dan arah angin menunjukkkan cuaca. (3) Simbol, (tanda yang sesuai) adalah hubungan antara penanda dengan petanda yang tidak bersifat alamiah melainkan merupakan kesepakatan masyarakat semata-mata. Misalnya kata-kata yang menunjukkan suatu bahasa.
Analisis semiotika puisi “Tamu” bertujuan untuk mengungkap makna atau gagasan di balik tanda (yaitu teks puisi). Dalam memahami puisi “Tamu” dengan menggunakan kajian semiotik melalui tahap-tahap diantaranya: 1) pembacaan heuristik yaitu pembacaan yang didasarkan pada konvensi bahasa yang bersifat mimetik atau tiruan alam yang membangun arti yang berserakan. Kajian ini didasarkan pada pemahaman yang lugas berdasarkan denotatif. 2) Selanjutnya, yaitu tahap pembacaan hermeneutik yaitu pembacaan yang bermuara pada ditemukannya satuan makna puisi secara utuh.
Judul puisi “Tamu” menimbulkan suatu pemikiran ada makna yang tersembunyi di balik judul yang tentunya sang pengarang tidak sia-sia memberikan judul tersebut. Dilihat dari kata yang lugas itu, kita ketahui bahwa ‘tamu’ mempunyai arti: 1) orang yg datang berkunjung (melawat dan sebagainya) ke tempat orang lain atau ke perjamuan; 2) orang yg datang untuk menginap (di hotel), untuk membeli-beli (di toko).
Analisis puisi “Tamu” dilakukan tiap-tiap narasi karena pengarang menggunakan bentuk kalimat-kalimat yang sempurna maupun hampir sempurna secara gramatikal. Maka analisisnya menurut kalimat-kalimat berikut ini:
(1)Lelaki yang mengetuk pintu pagi hari sudah duduk di ruang tamu.
(2)Aku baru bangun.
(3)Tapi rupanya ia tidak merasa tersinggung waktu aku belum mandi dan menemui dia.
(4)Rambutku masih kusut dan pakaianku hanya baju kumal dan sarung lusuh.
(5)“Aku mau menjemput,” katanya pasti, seolah-olah aku sudah berjanji sebelumnya dan tahu apa rencananya.
(6)“Bukankah ini terlalu pagi?” tanyaku ragu.
(7)“Dia sudah menunggu!”
(8)Ia nampak tak sabar dan tak senang dibantah.
(9)Aku belum tahu siapa yang ia maksudkan dengan “dia”, tetapi sudah bisa kuduga siapa.
(10)“Tetapi aku perlu waktu untuk berpisah dengan keluarga. Terlalu kejam untuk meninggalkan mereka begitu saja. Mereka akan mencari.”
(11)Nampaknya tamu itu begitu angkuh seperti tak mau dikecilkan arti.
(12)Siapa dapat lolos dari tuntutannya.
(13)Sebelum aku sempat berbenah diri ia telah menyeret aku ke kendaraannya dan aku dibawanya lari entah ke mana.
(14)ke sorga atau ke neraka?”

Berikut ini pembacaan heuristik Puisi “Tamu”.
(1)“Lelaki yang mengetuk pintu pagi hari sudah duduk di ruang tamu”.
Lelaki yang mengetuk pintu, berarti seorang laki-laki yang bertamu dengan mengetuk pintu. Pagi hari menunjukkan waktu tamu itu datang. Sudah duduk di ruang tamu berarti tamu tersebut sudah masuk rumah dan duduk di ruang tamu.
(2)“Aku baru bangun”
Kalimat itu menunjukkan bahwa tokoh “aku” baru bangun tidur karena hari waktu itu masih pagi.
(3)“Tapi rupanya ia tidak merasa tersinggung waktu aku belum mandi dan menemui dia”.
Kata-kata yang diucapkan tuan rumah itu menandakan bahwa dari gelagatnya tamu itu tidak merasa tersinggung ketika tuan rumah menemuinya dalam keadaan belum mandi. Dalam norma masyarakat, menemui tamu dalam keadaan belum mandi adalah hal yang tidak sopan dan dianggap tidak menghormati tamu.
(4)“Rambutku masih kusut dan pakaianku hanya baju kumal dan sarung lusuh”
Tuan rumah seperti menyampikan alasan bahwa ia belum siap kedatangan tamu. Keadaan tuan rumah digambarkan baru saja bangun tidur dan belum sempat mandi terlihat rambutnya kusut dan masih memakai pakaian tidurnya yaitu baju kumal dan sarung lusuh.
(5)“Aku mau menjemput,” katanya pasti, seolah-olah aku sudah berjanji sebelumnya dan tahu apa rencananya.
Si tamu mengatakan bahwa ia akan menjemput tuan rumah seolah-olah tuan rumah sudah mempunyai janji dan mengetahui rencananya, padahal tuan rumah tidak mengetahui bahwa tamu itu akan datang dan mau menjemputnya.
(6)“Bukankah ini terlalu pagi?” tanyaku ragu.
Tuan rumah menyatakan bahwa kedatangan tamu tersebut msih terlalu pagi. Tuan rumah tidak menyangka akan kedatangan tamu di waktu pagi.
(7)“Dia sudah menunggu!”
“Dia sudah menunggu!” merupakan jawaban dari tamu atas pertanyaan tuan rumah. Jawaban itu menunjukkan bahwa ada seseorang yang sudah menunggu tuan rumah.
(8)Ia nampak tak sabar dan tak senang dibantah.
Dari kata-kata tamu Dia sudah menunggu!, dan dari gelagatnya menunjukkan bahwa si tamu kelihatan tidak sabar dan tidak senang dibantah. Hal itu merupakan reaksi atas alasan yang dilontarkan tuan rumah “Bukankah ini terlalu pagi?”
(9)Aku belum tahu siapa yang ia maksudkan dengan “dia”, tetapi sudah bisa kuduga siapa.
Ketika tamu menyatakan Dia sudah menunggu!, tuan rumah merasa bahwa ia belum tahu siapa “dia” yang dimaksudkan oleh tamu. Tetapi tuan rumah sudah menduga siapa “dia”.
(10)“Tetapi aku perlu waktu untuk berpisah dengan keluarga. Terlalu kejam untuk meninggalkan mereka begitu saja. Mereka akan mencari.”
Tuan rumah menyadari bahwa ia akan pergi dengan tamu untuk bertemu dengan “dia”. Oleh karena itu, tuan rumah mengatakan bahwa ia perlu waktu untuk berpisah dengan keluarganya agar keluarganya tidak mencarinya. Tuan rumah merasa dirinya kejam apabila tidak berpamitan dahulu kepada keluarganya.
(11)Nampaknya tamu itu begitu angkuh seperti tak mau dikecilkan arti.
Menanggapi permintaan tuan rumah untuk berpamitan dengan keluarganya dahulu, tamu itu merasa tidak mau tahu karena mereka harus pergi saat itu juga. Tamu itu terlihat angkuh dan seakan-akan memaksa tuan rumah utntuk segera pergi dengannya.
(12)Siapa dapat lolos dari tuntutannya.
Menyadari sikap tamu, tuan rumah merasa bahwa ia tidak bisa menolak ajakan tamu untuk pergi saat itu juga tanpa ia sempat berpamitan kepada keluarganya.
(13)Sebelum aku sempat berbenah diri ia telah menyeret aku ke kendaraannya dan aku dibawanya lari entah ke mana.
Sebelum tuan rumah sempat untuk bersiap-siap, tamu itu sudah menyeretnya, berarti tamu itu memaksa tuan rumah untuk pergi dengannya. Tuan rumah diajak tamu ke kendaraannya dan ia tidak tahu akan di bawa kemana.
(14)ke sorga atau ke neraka?”
Pernyataan terakhir ini merupakan penutup narasi, kata-kata dari tuan rumah berbentuk pertanyaan, akan dibawa ia oleh tamu itu. Dibawa ke sorga atau ke neraka.

Selanjutnya adalah tahap pembacaan hermeneutik.
Memaknai puisi “Tamu” di atas justru dapat dilakukan dengan lebih mudah dengan melihat pada baris terakhir, yaitu ke sorga atau ke neraka?”. Dengan mengetahui arti lugas sorga dan neraka dapat diungkapkan bahwa tokoh “aku” dijemput oleh tamu untuk datang ke sorga atau neraka. Hal ini berarti tokoh “aku” harus meninggalkan dunia untuk kemudian menuju akhirat melalui kematian.
Lelaki yang mengetuk pintu dapat diartikan sebagai utusan Tuhan, yakni malaikat yang akan menjemput setiap manusia. Waktu kedatangannya yang pagi hari menunjukkan bahwa malaikat datang dengan tiba-tiba, tanpa diketahui manusia. Lebih lanjut lagi melalui penceritaan “Aku baru bangun”, menandakan bahwa setiap manusia tidak pernah siap untuk menghadapi kedatangan malaikat (menghadapi kematian). Malaikat sendiri tidak peduli apa kegiatan manusia ketika malaikat harus mencabut nyawanya. Malaikat juga tidak peduli apakah manusia siap menghadapi kematian atau tidak. Hal ini tergambar dalam kata-kata, “Tapi rupanya ia tidak merasa tersinggung waktu aku belum mandi dan menemui dia”.
Sesungguhnya kematian dapat menjemput manusia kapan saja dan dimana saja. Dan sesungguhnya setiap manusia menyadari bahwa ia akan menghadapi kematian kemudian menghadap kepada Tuhan. Meskipun seringkali manusia melalaikan perihal kematian yang sewaktu-waktu bisa menjemputnya dikarenakan ia disibukkan oleh urusan dunia.
Karena kematian bisa menjemput tiba-tiba, sehingga tak ada waktu sedikitpun untuk sekedar berpamitan kepada keluarga. Kematian juga tidak bisa dimajukan atau ditangguhkan. Hal ini tergambar dalam bait: Nampaknya tamu itu begitu angkuh seperti tak mau dikecilkan arti. Setiap manusia juga tidak mungkin bisa lolos dari kematian, karena tiap jiwa pasti akan mengalami kematian (Siapa dapat lolos dari tuntutannya)
Kematian akan menjemput setiap manusia baik manusia itu senang atau tidak. Bahkan dengan bahasa kiasan, kematian itu “memaksa” manusia untuk ikut dengannya. Dan kelanjutan setelah kematian adalah akhirat yang hanya ada dua pilihan yaitu sorga atau neraka.
Dari hasil analisis di atas dapat dinyatakan bahwa penulis ingin menyampaikan sebuah amanat penting terkait dengan kematian. Penulis ingin mengingatkan setiap orang bahwa kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja. Oleh karena itu setiap orang hendaknya mempersiapkan bekal menuju akhirat. Penulis menulis puisi “Tamu” ini dimungkinkan karena adanya keprihatinan terhadap masyarakat yang terlalu sibuk dengan urusan dunia, bergaya hidup hedonisme, materialisme, dan melalaikan urusan akhirat.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2009. Stilistika: Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian Estetika Bahasa. Surakarta: Cakra Books Solo
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmad Djoko. 2008. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sastrowardoyo, Subagio. 1982. Daerah Perbatasan. Jakarta: Balai Pustaka

About these ads