PENDALAMAN MATERI BAHASA INDONESIA
PROGRAM SERTIFIKASI GURU MELALUI JALUR PENDIDIKAN


1.Jelaskan konsep huruf, fonem, fon, kontoid, vokoid, dan kaidah fonotaktik!
a) Huruf adalah tanda yang dipakai dalam aksara untuk menggambarkan bunyi manusia (Kridalaksana, 1993: 79). Huruf yang digunakan dalam bahasa Indonesia, khusunya, terbagi atas huruf kafital (huruf besar) dan huruf kecil. Huruf kapital digunakan dalam berbagai nama diri, antara lain nama orang, nama jabatan, nama geografi, nama badan atau lembaga, dan pada penulisan awal kalimat. Sedangkan huruf kecil digunakan dalam kalimat dan nama-nama selain nama diri atau badan.
Huruf dalam tataran ini dapat berada di awal, di tengah, dan di akhir. Huruf belum bermakna sedangkan fonem sudah mampu membedakan makna. Huruf adalah aksara atau gambaran bunyi bahasa.
Contoh :
Huruf Vokal
Cara pemakaian dalam kata
Di awal
Di tengah
Di akhir
a
i
o
u
e*
adik
ikat
otak
ulang
encer
elang
satu
kita
doa
tua
tega
perah
kota
hari
kado
kamu
pete
klise

Huruf Konsonan
Cara Pemakaian dalam Kata
Di awal
Di tengah
Di akhir
h
k
l
n
s
pasak
kapan
lisan
nomor
simak
saham
makan
malu
makna
pusat
kerah
telak
mental
makan
laris

b)Fonem adalah bunyi bahasa terkecil yang membedakan bentuk makna. Fonem adalah satuan yang terkecil yang terdiri atas bunyi-bunyi ujar yang dapat membedakan arti.
Contoh : cari, dari, jari, lari, mari, sari, dan tari.
Fonem /l, t, d, j, m, s, c/ mampu menunjukkan terjadinya perbedaan makna, sehingga disebut fonem yang berbeda.
c)Fon merupakan suatu hasil bunyi dari alat ujar dan dalam proses menghasilkan bunyi tersebut dikenal kontoid dan vokoid. Fon adalah bunyi bahasa terkecil baik yang membedakan arti atau tidak membedakan arti ( tahun – taun / ramai – rame / satai –sate / cabai –cabe).
d) Kontoid atau konsonan merupakan bunyi bahasa yang dihasilkan dengan menghambat aliran udara pada salah satu tempat di saluran suara di atas glotis. Kontoid adalah bunyi yang bagi pengucapanya arus udara dihambat sama sekali oleh penutupan larinx atau jalan di mulut atau dipaksa melalui lubang sempit, atau dipindahkan dari garis tengah daripada alurnya melalui lubang lateral, atau menyebabkan bergetarnya salah satu alat-alat supraglotal. Contoh: [p] (papa), [t] (tata), [d] (dada).
Kontoid terbagi atas :
a.Kontoid bilabial : [p, b, m, w]
b.Kontoid labiodental : [f, v]
c.Kontoid apikodental : [t, d, n, s, l]
d.Kontoid apikoalveolar : [t, d, n, s, l]
e.Kontoid laminopalatal : [j, c, ñ, y]
f.Kontoid dorsovelar : [k, g, x, ŋ]
g.Kontoid faringal : [h]
h.Kontoid glotal : [?]
i.Kontoid nasal : n, m, ŋ, ñ]
e) Vokoid (istilah fonetik) atau vokal (konsep fonemis dan grafemis) adalah bunyi bahasa yang dihasilkan dengan getaran pita suara, dan tanpa penyempitan dalam saluran suara di atas glotis. Vokoid adalah bunyi yang bagi pengucapannya jalan mulut tidak terhalang, sehingga arus udara dapat mengalir dari paru-paru ke bibir dan ke luar tanpa dihambat, tanpa harus melalui lubang sempit, tanpa dipindahkan dari garis tengah pada alurnya dan tanpa menyebabkan alat-alat supraglotal sebuah pun bergetar; biasanya bersuara, tetapi tidak perlu selalu demikian.
Contoh: [a] (apa),[e] (nenek), [e] (mepe) dalam bahasa Indonesia berarti menjemur, [i] (ini).
f) Kaidah fonotaktik adalah kaidah yang mengatur penjejeran fonem dalam satu morfem. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, terdapat jejeran seperti / -nt-/ (untuk), /-rs-/ (bersih), dan /-st-/ (pasti), tetapi tidak mengizinkan jejeran seperti /-pk-/ dan /pd/. Kaidah fonotaktik merupakan kaidah-kaidah yang mengatur urutan atau hubungan antara fonem-fonem suatu bahasa. Fonotaktik mempunyai pola yang terkait dengan pola penyukuan kata dan pergeseran bunyi menimbulkan variasi bunyi satu fonem yang sama.
2.Problema apakah yang sering dijumpai dalam penerapan EYD dan kaidah pembentukan istilah, baik menyangkut masalah tata tulis maupun tata ucap?
a) Masalah Penerapan EYD
Peneraan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang mulai diberlakukan sejak tahun 1972, masih belum dapat dilaksanakan secara mantap. Hal ini karena jumlah variasi pelafalan bahasa Indonesia yang diizinkan atau diterima itu sangat besar sebagai akibat banyaknya ragam kedaerahan. Lafal bahasa Indonesia banyak coraknya. Kita bukan hanya berhadapan dengan ragam kedaerahan, tetapi juga dengan ragam orang yang kurang berpendidikan, yang fonologi bahasanya berbeda. Dalam upaya pembakuan lafal, yang menjadi masalah berikutnya adalah lafal siapa atau lafal daerah mana yang harus dijaikan acuan atau tolak ukur agar dapat disebut lafal Indonesia yang baku.
b)Masalah pembentukan istilah
Masalah pembentukan istilah, sebagai bagian dari leksikon bahasa Indonesia, sudah diupayakan ke arah pembakuan dengan diterbitkannya Pedoman Pembentukan Istilah sejak tahun 1975. Usaha ini merupakan upaya agar bahasa Indonesia memiliki syarat kemantapan, kecendekiaan, dan keseragaman. Akan tetapi, pengembangannya sangat bergantung kepada unsur sertaan pengembangan ilmu. Dengan kalimat lain, pembentukan istilah, sangat bergantung kepada para ahli di berbagai bidang ilmu.
c) Masalah tatatulis dan tataucap
Di dalam kelas adakalanya kita menemukan permasalahan penggunaan sebuah atau beberapa kata asing dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia prinsip pengucapan antara tulisan dan ucapan harus sama sedangkan dalam bahasa asing khususnya bahasa Inggris antara tulisan dan pengucapan banyak yang berbeda.
Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan cara:
1)Penyusunan kamus disertai cara pengucapannya (transkrip fonetis);
2)Pengucapan diusahakan antara tulisan dan ucapan sama dalam konteks bahasa Indonesia;
3)Kata asing digunakan jika dalam bahasa Indonesia tidak ada kata padannya; dan
4)Pembelajaran senantiasa berpedoman pada kaidah penyerapan dan tatatulis serta memperhatikan masyarakat pengguna bahasa Indonesia.
3.Jelaskan secara menyeluruh proses morfologis dan proses morfofonemis dan berilah contoh masing-masing secukupnya!
Proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Proses morfologis ada enam jenis (Kridalaksana 1990:5) yaitu:
a)afiksasi (pengimbuhan), yaitu proses pembentukan kata dengan membubuhkan imbuhan afiks pada bentuk dasarnya. Hasilnya disebut kata berimbuhan.
Contoh :
usir + meng- ———–► mengusir
guruh + -em- ———–► gemuruh
pakai + -an ———–► pakaian
batas+ ber-an ———–► berbatasan
b) reduplikasi (pengulangan) ialah proses pembentukan kata dengan cara mengulang bentuk dasarnya. Hasil proses ini disebut kata ulang.
Contoh :
bertanya ———–► R ———–► bertanya-tanya
pelan ———–► R ———–► pelan-pelan
bersalaman ———–► R ———-► bersalam-salaman
c) komposisi (pemajemukan), yaitu proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan suatu kata dengan kata yang lain. Hasilnya disebut kata gabung (kata majemuk).
Contoh :
tanggung + jawab ———–► tanggung jawab
anak + emas ———–► anak emas
mata + hati ———–► mata hati
d)derivasi zero
Derivazi zero adalah proses leksem menjadi kata tunggal tanpa perubahan apa-apa. Contoh leksem KITA menjadi kita tanpa perubahan apa-apa.
e)pemendekan
Pemendekan adalah proses terbentuknya leksem menjadi kata dengan cara pemenggalan, konstraksi, akronim, dan penyingkatan. Contoh IBU menjadi bu.
f)derivasi balik
Derivasi balik adalah proses terbentuknya leksem menjadi kata. Proses ini sama dengan kejadian dalam afiksasi.
Proses morfofonemis adalah proses perubahan fonem akibat pertemuan sebuah morfem dengan morfem yang lain. Proses morfofonemis merupakan peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem. Proses morfofonemis dalam bahasa Indonesia hanya terjadi dalam pertemuan realisasi morfem dasar (morfem) dengan realisasi afiks (morfem), baik prefiks, sufiks, infiks, maupun konfiks. Berbicara mengenai morfem, berarti berbicara mengenai satuan abstrak, sedangkan morf merupakan satuan yang lebih konkret daripada morfem, sedangkan di luar itu, fonem dan fon merupakan satuan yang lebih konkret lagi.
a)Peristiwa Morfofonemis Pemunculan Fonem
1.Pemunculan luncuran/y/ /ketinggiYan/ /tepiYan/
2. Pemunculan luncuran/w/ /KepulauWan/
3.Pemunculan luncuran/a/ /ayahanda/
4.Pemunculan luncuran/n/ /seNdiri/
5.Pemunculan luncuran/m//seMbarangan/
6.Pemunculan luncuran/nge/ /pe NGE las/
7.Pemunculan luncuran/ng//peNGgugat/
b)Peristiwa Morfofonemik Pengekalan Fonem
Penggabungan morf tak terjadi perubahan apa-apa.
1.Pengekalan fonem diawali /l,r,y,w/ melihat, pemula, penilai
2.Pengekalan fonem bila berakhiran /a/ dan mendapat konfiks ke-an. Misalnya kesamaan, dan kelangkaan.
3.Pengekalan fonem terjadi bila berafiks ber-, ter-, per-, se-, wan, wati
Misalanya: bermain, terpukul, pertanda, searah wartawan, wartawati.
4.Peristiwa Morfofonemik Pemunculan dan Pengekalan Fonem
Misalnya: mengkukur dan mengukur
c)Peristiwa Morfofonemik Pergeseran Fonem
1.pergeseran ke belakang /bala-san, rambu-tan/
2.pergeseran ke depan /i-bunda, cu-cunda/
3.pergeseran pemecahan suku kata akibat infiks /ge-ri-gi, ge-me-tar/
d)Peristiwa Morfofonemik Perubahan Dan Pergeseran Fonem
1.Perubahan fonem /’/ menjadi fonem /k/ /menaiki,gerakan/
2.Perubahan fonem /r/ berubah menjadi /l/ /belajar, pelajar, terlantar/
e)Peristiwa Morfofonemik pelesapan fonem
1.pelesapan fonem /h /dan /k/ /sejarawan, ananda/
2.pelesapan fonem /r //peramal,bekerja/
f)Peristiwa Morfofonemik Peluluhan Fonem
1.peluluhan fonem /k//mengarang, pengiriman/
2.peluluhan fonem /p//memakai, pemahat
g)Peristiwa Morfofonemik Penyisipan Fonem secara Historis
Peristiwa ini apabila terjadi morfem dasr berasal dari kata asing mendapat afiksasi/ standardisasi, objektif/
h)Peristiwa Morfofonemik pemunculan fonem berdasarkan pola bahasa asing
Pemunculan fonem karena mengikuti morfofonemik bahasa asing. /islami, duniawi, surgawi, alami/
i)Peristiwa Morfofonemik Variasi Fonem Bahasa Sumber
Variasi fonem mengikuti pola bahasa sumber yang memiliki makna yang sama
Tunggal = diktum, musikus, politikus, alumnus
Jamak = diksi, musisi, politisi, alumni
4.Bandingkan persamaan dan perbedaan antara konstruksi morfologis dan konstruksi sintaksis! Deskripsikan jenis kedua kontruksi tersebut dan berilah contoh masing-masing secukupnya!
Persamaan dan Perbedaan Kontruksi Morfologis dan Sintaksis.
Baik morfologi dan sintaksis merupakan bagian dari ilmu bahasa . Morfologi adalah ilmu yang mengkaji soal yang berhubung dengan seluk-beluk bentuk kata, kemungkinan adanya perubahan golongan kata (fungsi gramatik), kemungkinan perubahan makna kata akibat daripada perubahan bentuk kata (fungsi semantik). Satuan yang paling kecil yang diselidiki oleh morfologi adalah morfem dan yang paling besar burupa kata.
Sintaksis mempelajari seluk beluk hubungan antara kata/frase/klausa/kalimat. Kata dalam tataran siktaksis adalah satuan yang paling kecil yang terbesar adalah wacana. Jadi materi pelajaran morfologi dan sintaksis selalu terkait, jika kita urutkan dari bawah, keenam satuan gramatik menurut Ramlan adalah sebagai berikut, morfem, kara, frasa, klausa, kalimat, dan wacana.
Morfologi
Sintaksis
Mengkaji morfem dan kata

Contoh :
Paman akan mengadakan perjalanan jauh.
Paman : satu morfem
akan : satu morfem,
mengadakan : tiga morfem
meN + ada + kan
perjalanan : dua morfem
per – an + jalan
jauh : satu morfem
unsur ke…an dengan
tidak adil, tidak mampu,
tidak berhasil…
Mengkaji frasa, klausa, kalimat dan wacana.

Contoh :
Paman akan mengadakan perjalanan jauh.

Paman : subjek
akan mengadakan : predikat
perjalanan jauh : objek

Hubungan kata tidak dengan
adil, mampu, berhasili, cukup

5.Tipe kalimat dan pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia, sertakan contoh masing-masing!
Tipe kalimat dan pola kalimat dasar yang terdapat dalam bahasa Indonesia.

Tipe kalimat
Contoh
Subjek
Predikat
Objek
Pelengkap
Keterangan
S – P
Ahmad
bertanya
-
-
-
S – P – O
Ucok
membuat
layang-layang
-
-
S – P – Pel
Asep
belajar
Bahasa Indonesia
-
-
S – P – Ket
Kakak
mau menikah
-
-
tahun ini
S – P – O – Pel
Ibu
membelikan
adik
sepatu
-
S – P – O – Ket
Ely
membeli
buku
-
di Gramedia

Tipe kalimat dalam bahasa Indonesia ada enam macam berdasarkan fungsi. Keenam tipe kalimat ini juga memiliki pola kalimat dasar. Apabila konstituen kalimat dasar yang tidak wajib diabaikan maka yang dihasilkan kalimat inti. Tabel di atas merupakan keenam kalimat dasar yang dibedakan berdasarkan pola unsur-unsurnya yang wajib.
Pola Kalimat Dasar
Nomor
Pola Kalimat Dasar
Contoh
1
FN + FN
Pamanku
polisi
2
FN + FV
Adikku
belajar
3
FN + F Numeralia
kucingku
seekor
4
FN + F Adjektif
Dia
bahagia
5
FN + F Adverb
Ayah
ke Surabaya

Berdasarkan jumlah inti kalimat dapat ditentukan pola-pola dasar sebuah kalimat. Sebuah kalimat luas selalu dapat dikembalikan kepada pola-pola dasar yang dianggap sebagai dasar pembentukan kalimat luas itu. Dasar pembuatan kalimat luas adalah kalimat inti
6.Deskripsikan konsep istilah berikut dan berilah contoh masing-masing secukupnya!
a. Kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata kerja
Contoh : 1. Ibuku guru.
2. Temanku sangat cantik.
3. Dosenku profesor ternama.
b. Kalimat verbal pasif
Ada dua pola terbentuknya kalimat pasif, yaitu kalimat yang diturunkan dari kalimat aktif dan dari kalimat itu sendiri.
Contoh :
1.Sayuran itu dibeli oleh Ibu.
2.Aku terantuk batu.
Kalimat nomor satu adalah kalimat pasif yang diturunkan dari kalimat aktif Ibu membeli sayuran. Berarti kalimat nomor satu dasar pemasifannya dari kalimat aktif. Tidak semua kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat aktif. Kalimat aktif yang tidak dapat diubah menjadi kalimat pasif disebut kalimat taktransitif. Kalimat tersebut tidak mempunyai objek.
Kalimat nomor dua adalah kalimat pasif yang terbentuk bukan karena dari kalimat aktif, melainkan dari verba yang berkategori pasif. Ada beberapa prefiks yang berkategori pasif, yaitu prefiks di- dan ter- dan pada pola tertentu kata dasar juga berperan sebagai kata kerja pasif. Contohnya Buku aku beli atau Buku kubeli. Pada kalimat Buku aku beli diturunkan dari kalimat aktif Aku membeli buku.
c.kalimat verbal medial
Kalimat verbal medial adalah kalimat yang subjeknya pelaku sekaligus sebagai penderita.
1.Mereka terdampar di pulau itu..
2.Dia terjun ke sungai.
d.kalimat verbal resiprokal
Kalimat verbal resiprokal adalah kalimat yang predikatnya menyatakan makna saling.
Contohnya:
1.Dia berseberangan dengan lawan politiknya.
2.Dua orang kekasih itu berjalan dengan bergandengan tangan tidak merasa malu sedikit pun.
e.kalimat aktif ekatransitif
Kalimat ekatransitif adalah kalimat yang berobjek dan tidak berpelengkap dan mempunyai tiga unsur wajib, yakni subjek, predikat, dan objek
Contoh:
1.Pemerintah akan memasok semua kebutuhan lebaran.
S P O
2.Presiden merestui pembentukan Panitia Pemilihan Umum.
S P O
3.Nilai Ujian Nasional menentukan nasib para siswa.
S P O
f.kalimat aktif dwitransitif
Kalimat bentuk ini mempunyai pola tambahan yaitu hadirnya pelengkap dalam kalimat tersebut selain unsur subjek, predikat, dan objek.

Contoh:
1.Ibu membelikan adik sepatu baru.
S P O Pel.
2.Kamu harus membuatkan Pak Ali Laporan tahunan
S P O Pel.
g.kalimat aktif semitransitif
Kalimat aktif semitransitif adalah kalimat yang objeknya tidak dimunculkan. Apabila dimunculkan menjadi kalimat aktif ekatransitif (objek dielipsiskan).
Contohnya:
1. Orang itu sedang mencuci.
2. Pengemis itu sedang meminta.
h.kalimat ekuatif
Kalimat ekuatif adalah kalimat yaang mengandung kata kerja bantu seperti adalah, menjadi dan merupakan. Kalimat ini antara subjek dan predikat seakan akan dianggap sama atau merupakan pengganti makna.
Contohnya;
1.Kakekku adalah pelaut.
2. Dia sekarang menjadi orang kaya.
7.Jelaskan cara pengembangan ide atau gagasan dalam kegiatan menulis, yakni
a.cara alamiah
b.cara logika/penalaran
c.cara urutan kepentingan
d.cara perbandingan
e.cara pertentangan

Pengembangan ide gagasan menulis ada berbagai cara, yaitu:
a)cara alamiah
Pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Pola ini sesuai dengan dimensi dalam kehidupan manusia, yaitu atas-bawah, melintang-menyeberang, sekarang-nanti, dulu-sekarang, timur-barat, dsb. Contoh :
Perjalanan waktu dari dahulu hingga sekarang yang tidak pernah berubah dalam kehidupan manusia adalah rasa ingin tahu dan ingin hidup lebih enak. Pada masa pergolakan di tanah air orang susah mendapatkan nasi. Makanan sehari hari hanyalah jagung atau jenis umbi-umbian. Perkembangan zaman jagung dan umbi-umbian harganya lebih mahal dari nasi. Jagung dan umbi-umbian telah dimodifikasi menjadi makanan yang dipajang di restoran.
b)cara logika/ penalaran
Pola logika atau penalaran yaitu pola pengembangan paragraph yang mencari hubungan-hubungan yang dapat diterima oleh akal. Tanggapan yang diberikan dalam tulisan menyesuaikan jalan pikiran sebagai landasan untuk memecahkan persoalan.
Contoh :
Rasa ingin tahu seseorang dipicu oleh perasaan hati manusia ingin hidup lebih baik. Keingintahuan seseorang menjadikan hidup lebih kreatif, inovatif, dan berarti. Kekreatifan dan keinovatifan seseorang menjadikan hidup dan tidak mati. Masa bodah seseorang akan membunuh secara perlahan hidup dan kehidupan.
c)urutan kepentingan
Urutan kepentingan sama dengan pola familiaritas, yaitu pengarang dalam mengembangkan karangannya dimulai dengan cara mengemukakan sesuatu yang berdasarkan skala prioritas kemudian berangsur-angsur mengemukakan yang tidak begitu penting.
Contoh:
Usaha mengembangkan produktivitas pertanian tidak akan terlepas dari kemauan dan usaha petani itu sendiri. Ada beberapa usaha yang harus dilakukan oleh petani dalam meningkatkan hasil pertanian. Usaha ini lebih dikenal dengan pancausaha tani. Memilih bibit unggul merupakan langkah yang harus dilakukan oleh petani agar hasil tanaman yang akan dipanen menjadi baik. Petani tidak boleh asal menanam bibit tanaman. Bibit tanaman itu harus dicari keunggulan-keunggulannya. Langkah ini sering diabaikan oleh petani Indonesia.
d)cara perbandingan
Pola perbandingan adalah dengan cara membandingkan atau menunjukkan persamaan dan perbedaan antara dua orang, objek, atau gagasan dengan bertolak dari segi-segi tertentu.
Contoh:
Kondisi perekonomian kota dan pedesaan ditinjau dari ketahanan pangan sangat berbeda. Perekonomian masyarakat pedesaan lebih kuat dibanding dengan perekonomian kota. Simbiosis mutualis inilah yang menjadikan kedua perekonomian kota dan pedesaan tetap berjalan.
e)cara pertentangan
Pola pertentangan lebih menekankan pada aspek mencarai perbedaan unsur-unsur yang akan diungkap.
Contoh :
Proses demokrasi sebagai cita-cita luhur itu kurang lancar jalannya. Ketidakberhasilan ini karena adanya perbedaan kepentingan. Pandangan picik dari masyarakat yang mengatakan bahwa demokrasi akan menyebabkan kondisi keamanan yang tidak kondusif sebagai penyebab demokrasi tidak berjalan dengan baik. Sebagian masyarakat lain memandang situasi yang tidak kondusif ini dipicu karena demokrasi tidak berjalan. Pemerintah yang otokrian menyebabkan kesengsaraan di mana-mana..
8.Paragraf yang baik memiliki tiga syarat utama yakni kohesi, koherensi, dan kelengkapan. Jelaskan ketiga syarat tersebut dan deskripsikan piranti kohesi yang biasa digunakan dalam pengembangan pararagraf!
Tiga syarat paragraf yang baik adalah:
1)koherensi
Setiap paragraf haruslah merupakan kumpulan kalimat yang saling berhubungan padu, tidak berdiri-sendiri atau terlepas satu sama lain.
2)kelengkapan
Paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan kalimat topik dan dikatakan tidak lengkap apabila tidak dikembangkan atau hanya diperluas dengan pengulangan- pengulangan.
3)kohesi
Keserasian hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana sehingga terciptalah pengertian yang baik atau koheren.
Agar kalimat itu menjadi kohesif diperlukan adanya piranti kohesi sabagai berikut.
a.Hubungan sebab-akibat baik antarklausa maupun anatar kalimat yang dinyatakan dengan kata penghubung sebab, karena, akibat dan lain-lain;
b.Hubungan pertentangan yang dinyatakan dengan kata penghubung tetapi, namun, sedangkan;
c.Hubungan pengutamaan yang dinyatakan dengan kata penghubung bahkan;
d.Hubungan perkecualian yang dinyatakan dengan kata penghubung kecuali;
e.Hubungan konsesif yang dinyatakan dengan kata penghubung walaupun, meskipun;
f.Hubungan tujuan yang dinyatakan dengan kata penghubung agar, supaya;
g.Hubungan persesuaian alami yang dinyatakan dengan hubungan yang bersifat gramatikal.
Kesemua unsur ini akan membentuk sebuah paragraf yang baik dan padu.

9.Jelaskan problema semantik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah Saudara!

Problema semantik yang sering dijumpai di sekolah kami antara lain :
1.Adanya pengaruh kuat yang negatif dari media elektronik dalam mengunakan dan memaknai kata ganti ’kami’ dan ’kita’ dalam percakapan sehari-hari.
2. Adanya kata-kata yang sama dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah/Sunda, tetapi maknanya berbeda.
Contoh : amis, paling, papah, pisang, dan suku.
3. Adanya kesulitan pada anak ketika dihadapkan pada pembelajaran makna denotasi dan konotasi dalam frasa.
Contoh : kambing hitam, lintah darat, dukun beranak, dan timah panas.
4. Adanya penulisan kalimat yang ambigu dalam karang-mengarang.
Contoh : Ditangkap dua orang pencuri di kampung kami.
5. Adanya kesulitan siswa dalam mencari dan memahami makna kata-kata baku yang masih asing di telinga siswa.
Contoh : senyampang dan madani
6. Adanya kesulitan siswa dalam memahami makna kata-kata serapan dari bahasa asing.
Contoh : diversifikasi, intensifikasi, dan determinasi.
7. Adanya ketumpangtindihan penggunaan kata ’jam’ dan ’pukul’, ’tiap-tiap’ dan ’masing-masing’.
8. Adanya kesulitan siswa dalam memahami makna diksi dalam karya sastra.

About these ads