Abstrak

Jika membicarakan sastra Indonesia, tentu tidak terlepas dari permasalahan yang ada dalam masyarakat. Yaitu, sejak kapan sebetulnya sastra Indonesia itu ada ? Sebagian ahli berpendapat bahwa sastra Indonesia telah ada sejak manusia mendiami kepulauan nusantara ini. Tapi ragamnya masih terbatas pada sastra daerah yang hanya diketahui di daerah tersebut.Sebagian ahli lagi berpendapat bahwa sastra Indonesia mulai ada sejak tahun 1908. Hal ini disebabkan pada tahun tersebut didirikan Commisie Voor De Inlandsche School En Volkslechuur ( komisi bacaan rakyat ), yang didirikan oleh pemerintah Belanda, yang kemudian berubah nama pada tahun 1917 dengan nama Kantoor Voor De Volkscletuur, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Balai Pustaka.Tetapi, secara umum poin kedua diatas menekankan pada sastra Indonesia modern yang selanjutnya disebut sastra angkatan 20’an dan terus mengalami perkembangan sampai saat ini dengan angkatan 2000. Secara khusus dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan pengaruh sastra angkatan ‘66 terhadap sastra angkatan 2000.


1. PENDAHULUAN

Jika berbicara mengenai sastra tentu tidak terlepas dari banyaknya angkatan yang telah berkembang sejak dulu hingga sekarang. Angkatan-angkatan itu berkembang tidak dengan sendirinya, melainkan mengkuti perkembangan zaman yang ada. Tentunya yang menjadi ciri khas dari setiap angkatan itu berbeda-beda.
Secara garis besar, angkatan dalam kesusastraan Indonesia dibagi menjadi 6 angkatan, yaitu :
1. Angkatan 20-an ( Angkatan Balai Pustaka )
2. Angkatan 30-an ( Angkatan Pujangga Baru )
3. Angkatan 45-an
4. Angkatan 66
5. Angkatan 80 ( Sering juga disebut awal mula angkatan 2000 )
6. Angkatan 2000
Dengan pembedaan tersebut, menunjukkan perbedaan angkatan yang satu dengan angkatan yang lain.
Pembagian angkatan tersebut, dikarenakan adanya perbedaan mendasar yang melandasi lahirnya setiap angkatan. Hal itu dapat kita lihat dari karakteristik yang menjadi ciri khas setiap angkatan itu sendiri. Seperti angkatan 20-an ( Balai Pustaka ) yang lebih menekankan pada tema kawin paksa. Penggunaan bahasa pada angkatan ini masih banyak dipengaruhi oleh bahasa Minangkabau.
Hal ini wajar adanya, karena pada umumnya, karya sastra yang muncul pada saat itu kebanyakan berasal dari sastrawan Minangkabau. Hal tersebut tentu berbeda pada angkatan sesudahnya. Yaitu angkatan 33-an ( Angkatan Pujangga Baru ) yang mana pada angkatan ini masalah yang dibicarakan lebih kompleks lagi.
Secara khusus, yang akan saya bahas dalam tulisan ini mengenai sastra angkatan ‘66 dan angkatan 2000. Tidaklah jauh berbeda, karena kedua angkatan sama-sama mengalami suatu keadaan peralihan. Yang mana pada angkatan ‘66 diwarnai dengan pergeseran kekuasaan dari orde lama ke orde baru.
Begitu juga dengan sastra angkatan 2000, yang mengalami zaman baru, yaitu zaman reformasi, yang disebut juga dengan era kebebasan. Setelah berpuluh tahun sastrawan dibelenggu untuk tidak mengeluarkan karya yang dapat memojokkan pemerintah. Dengan tergulingnya pemerintahan orde baru, sastrawan dapat menyuarakan kebenaran dan keadilan kepada masyarakat lewat hasil karya mereka, baik itu puisi, novel, esei, dll.
Adapun yang menjadi batasan masalah dalam tulisan ini adalah :
1. Bagaimana sejarah munculnya kedua angkatan ini ?
2. Bagaimana karakteristiknya ?
3. Siapa saja tokoh dan hasilnya ?
4. Bagaimana perbandingan kedua angkatan ?

2. PEMBAHASAN

A. Satra Angkatan ‘66
1. Sejarah Munculnya Angkatan ‘66
Secara politis angkata ‘66 terlahir dari pergolakan politik dalam masyarakat. Kelahirannya adalah suatu peristiwa politik, tetapi disamping ukuran politik, dalam bidang kesusastraan ia mempunyai ukuran nilai, yaitu nilai kesusastraan. Ia anti tirani, ingin menegakkan keadilan dan kebenaran itu dituang dalam bentuk kesusastraan.
Hal ini muncul karena, para seniman ingin sastra Indonesia tidak berubah sebagaimana paham yang dihembuskan LEKRA. Yang mana LEKRA adalah perpanjangan tangan PKI dalam bidang kesusastraan. Sastrawan yang tetap berideologikan Pancasila, tidak mau jika sastra Indonesia terkontaminasipaham LEKRA.
Oleh sebab itu, sastrawan Indonesia menggelar diskusi yag akhirnya melahirkan manifes kebudayaan. Diskusi dilaksanakan pada awal Agustus 1963, hasil diskusi ( yang kemudian dinamakan manifes kebudayaan ) selesai dikerjakan oleh Wiratmo Soekito pada tanggal 17 Agustus 1963. Setelah selesai dipelajari, akhirnya diterima oleh Gunawan Mohammad dan Bokor Hutasuhut sebagai bahan yang akan diajukan dalam diskusi tanggal 23 Agustus 1963.
Diskusi tanggal 23 Agustus 1963 dihadiri oleh tiga belas orang seniman-budayawan, yaitu Trisno Sumardjo, Zaini, H.B. Jassin, Wiratmo Soekito, Bur Rusyanto, A. Bastari Asnin, Ras Siregar, Djufri Tanissan, Soe Hok Djin ( Arif Budiman ), Sjahwil, dan D.S Moeljanto. Pada tanggal 24 Agustus 1963 diadakan siding pengesahan manifes kebudayaan.
Adapun naskah manifes kebudayaan berisi :
– Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan diatas sektor kebudayaan yang lain. Setiap sektor berjuan bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.
– Dalam melaksanakan kebudayaan nasional kami berusaha mencipta dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat kami sebagai bangsa Indonesia ditengah-tengah masyarakat bangsa-bangsa.
– Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami.

Jakarta, 17 Agustus 1963

Para penandatangan manifes kebudayaan itu adalah H.B. Jassin, Trisno Sumarjo, Wiratmo Soekito, Zaini, Bokor Hutasuhut, Goenawan Mohammad, A. Bastari Asnin, Bur. Rasyanto, Soe Hok Djin, D.S. Moeljanto, Ras Siregar, Hartoyo Andangdjaja, Sjahwil, jufri Tannisan, Binsar Sitompul, Taufik A.G. ISMAIL, Gerson Poyk, M. Saribi Afn, Poernawan Tjondronagoro, Boen S. Oemarjati.
Butir kedua manifes kebudayaan menjelaskan sikap para penandatangan manifes bahwa mereka menolak politik sebagai panglima yang dicanangkan oleh LEKRA. Tetapi istilah Angkatan ’66 pertama kali diperkenalkan oleh H.B. Jassin dalam sebuah karangannya dalam majalah Horison ( Agustus 1966 ) yang bertajuk “ Angkatan 66 : Bangkitnya Satu Generasi “.

2. Karakteristik Angkatan ‘66
Pada masa ini lebih didominasi oleh karya-karya yang beralihan realisme sosial kanan. Termasuk di dalamnya puisi-puisi demonstrasi Taufik Ismail, Mansur Samin, dll. Pada masa ini karya sastra yang lebih dikenal adalah puisi, terutama puisi-puisi demonstrasi atau protes sosial.
a. Ciri-ciri Puisi
Struktur Fisik
– Berbentuk balada
– Menggunakan gaya repetisi
– Menggunakan gaya slogan dan retorik
– Bercorak kedaerahan
– Masalah sosial, kemiskinan, pengangguran, demonstrasi
– Keagamaan

b. Ciri-ciri Prosa dan Drama
Struktur Fisik
Karya prosa fiksi dan drama tahun 60-an masih menunjukkan struktur fisik konvensional. Seperti dikatakan oleh Sumarjo “ Kaidah mimesis dalam sastra masih dipatuhi dalam penulisan sastra drama tahun 1950-an dan 60-an di Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa belum terjadi perubahan dalam hal penokohan, alur, dan latar ceritanya. Bahkan berdasarkan catatan Sumarjo “ Dari 55 drama yang ada sebanyak 45 drama memasang tokoh yang jelas sekali nama, usia, watak, dan latar belakang sosiologisnya.

Struktur Tematik
– Perjuangan ( Berlatar revolusi )
– Kehidupan pelacur
– Sosial
– Kejiwaan
– Keagamaan

3. Sastrawan Angkatan 66

1. Taufik Ismail
Taufik Ismail adalah pelopor puisi-puisi demonstrasi. Puisi-puisinya adalah puisi mengungkapkan tuntutan membela kebenaran dan keadilan. Puisi Taufik juga disebut sebagai puisi yang menandakan suatu kebangkitan angkatan 66 dalam perpuisian Indonesia yang selama kurang lebih lima tahun dikuasai oleh pengarang-pengarang Lekra
Taufik Ismail dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 25 Juni 1937. Latar belakang pendidikannya adalah lulusan Fakultas Kedokteran Hewan UI ( Sekarang IPB ) di Bogor.
Kumpulan sajak-sajaknya ialah Tirani (1966), Bentneg (1966), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin dan langit (1971), Buku Tamu Musium Pejuangan (1969), dan sajak-sajak Ladang Jagung (1973).
Puisi-puisinya kebanyakan bersifat naratif dan prosais. Puisi-puisi demonstrasi kebanyakan sangat prosaiS. Puisi-puisinya tidak semuanya puisi demonstrasi, bahkan lebih banyak puisi yang bukan puisi demonstrasi.
Dibawah ini adalah cuplikan puisi demonstrasi dan puisi keagamaan Taufik Ismail.

Kamis Pagi

Hari ini kita tangkap tangan-tangan kebatilan
Yang selama ini mengenakkan seragam kebenaran
Dan menaiki kereta-kereta kencana
Dan menggunakan meterai kerajaan
Dengan suara lantang memperatasnamakan
Kawula dukana yang berpuluh juta

Hari ini kita serahkan mereka
Untuk digantung ditiang keadilan
Bertahun-tahun lamanya

Mereka yang merencanakan seratus mahligai raksasa
Membeli benda-benda tanpa harga di mancanegara
Dan memperoleh uang emas beratus juta
Bagi diri sendiri, di bank-bank luar negeri
Merekalah penganjur zina secara terbuka
Dan menistakan kehormatan wanita, kaum dan ibu kita.

Hari ini kita tangkap tangan-tangan kebatilan
Kebanyakan anak-anak muda berumur belasan
Yang berangkat dari rumah, pagi tanpa sarapan
Telah kita naiki gedung-gedung itu
Mereka semua pucat, tiada lagi berdaya
Seorang ketika digiring, tersedu
Membuka sendiri tanda kebesaran di pundaknya
Dan berjalan perlahan dengan lemahnya.

Benteng, 1966

DOA

Tuhan kami
Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun membangun kultus ini
Dalam menutupi hati nurani.

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin

Tuhan kami
Telah terlalu mudah kami
Menggunakan asma-Mu
Bertahun di negeri ini
Semoga
Kau rela menerima kembali
Kami dalam barisan-Mu

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin

2. Goenawan Mohammad
Salah seorang penandatangan manifes kebudayaan ini pernah menerima Anugerah Seni dari pemerintah RI pada tahun 1972. Tahun 1981 mendapat hadiah sastra ASEAN. Selain itu karya-karyanya banyak mendapat penghargaan dari Majalah Sastra dan Horison.
Karya-karyanya berupa sajak telah dibukukan dengan judul “Paritkesit” (1971) dan “Interlude” (1973). Sedangkan kumpulan esainya berjudul Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malinkundang (1972), Sex Sastra Kita (1981), Catatan Pinggir 2 (1989).
Selain karirnya di bidang kewartawanan, redaktur, dan penulis, ia juga pernah menjadi anggota MPR (1987). Disini disajikan sebuah puisi karyanya, yang berjudul “Dongeng Sebelum Tidur” yang dipetik dari Interlude.
Dongeng Sebelum Tidur

“ Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsens.”

Itulah yang dikatakan baginda kepada permaisurinya
pada malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh
dan senyap merayap antara sendi dan sprei.

“ Mengapakah tak percaya ? Mimpi akan meyakinkan
seperti mataharipagi.”

Perempuan itu terisak, ketika Angling Darma menutupkan
kembali kain ke dadanya dengan nafas dingin
meskipun ia mengecup rambutnya

Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.

Dan baginda pun mendapatkan akal bagaiman ia harus
melarikan diri dengan pertolongan dewa-dewa, entah dimana – untuk tidak serta

“ Batik Madrim mengapa harus, patihku ?
Mengapa harus seseorang mencintai kesetiaan lebih dari
Kehidupan dan sebagainya dan sebagainya.”

Interlude, 1973

Pengarang Lain
Tidak hanya Taufik Ismail dan Goenawan Mohammad yang terkenal angkatan 66 tetapi masih ada pegarang lain yaiu Mansur Samin dengan karyanya Perlawanan (1966), Tanah Air(1969), Dendang Kabut (1985), dan karya drama Kebinasaan Negeri Senja (1968).
Hartojo Anangdjaja, kumpulan sajaknya simponi puisi ( bersama D.S. Moeljanto, 1954 ), Manifestasi ( bersama Taufik Ismail ). Selain itu ada juga Toeti Heraty, Bur Rasuanto, Sapardi Djoko Darmono, Arifin C. Noer, dll.

B. Sastra Angkatan 2000
1. Sejarah munculnya angkatan 2000
Mulai terbentuknya angkatan 2000 sebenarnya bermula pada tahun 80-an, yang mana dimulai dengan ovel-novel Iwan Simatupang, yang jelas punya wawasan estetika novel tersendiri, lalu teaternya Rendra serta puisinya “Khotbah” dan “Nyanyian Angsa” juga semakin nyata dalam wawasan estetika perpuisian Sutardji Calzoum Bachri.
Penamaan agkatan ini awalnya dikarenaka para sastrawan yang menghasilkan karya-karyanya keluar dari aturan yang dipakai dalam angkatan sebelumya. ContohnyaSutardji Calzoum Bachri yang mendobrak dunia perpuisian Indonesia dengan puisi-puisi yang tidak lazim atau puisi-puisi yang tidak mengikuti kadah-kaidah puisi yang ada sebelumnya.
Para sastrawan pada angkatan ini mulai membicarakan masalah-masalah yang ada pada angkatan sebelumnya dianggap tabu untuk dibicarakan. Tema-tema yang diangkat juga bersifat pro-kontra terhadap karya sastra pendahulunya.
Hal ini semakin menjadi ketika pada tahun 80-90-an pemerintahan orde baru banyak mencekal karya sastra yang berisi kritikan pada pemerintahan. Hal ini terus berlanjut pada tahun 90-an, yang mana pemerintah banyak membredel media massa yang dianggap bertentangan dengan pemerintahan.
Sampai puncaknya pada tahun 1998 yang mana para mahasiswa, sastrawan, dan segenap masyarakat Indonesia menginginkan perubahan mendasar dalam tubuh birokrasi Indonesia.

2. Karakteristik angkatan 2000
Pada masa ini para pengarang sangat bebas bereksprimen dalam penggunaan bahasa dan bentuk. Seperti dikatakan Ajip Rosidi (1977 : 6), dalam Laut Biru Langit Biru, bahwa : mereka seakan ingin menjajagi sampai batas kemungkinan bahasa Indonesia sebagai alat pengucapan sastra, disamping mencoba batas-batas kemungkinan berbagai bentuk, baik prosa maupun puisi, sehingga perbedaan antara prosa dan puisi kian tidak jelas.

a. Puisi
Struktur Fisik
1. Puisi bergaya mantera menggunakan sarana kepuisian berupa ulangan kata, frasa atau kalimat. Gaya bahasa para lelisme dikombinasikan dengan gaya hiperbola untuk memperoleh efek yang sebesar-besarnya serta menonjolkan tipografi,
2. Puisi konkret sebagai eksperimen,
3. Banyak menggunakan kata-kata daerah untuk memberi kesan yang ekspresif
4. Banyak menggunakan permainan bunyi
5. Gaya penulisan yang prosais,
6. Menggunakan kata-kata yang sebelumnya dianggap tabu

Struktur Tematik
1. Protes terhadap kepincangan dalam masyarakat
2. Kesadaran bahwa aspek manusia merupakan subyek dan bukan obyek pembangunan
3. Banyak mengungkapkan kehidupan batin religius dan cenderung mistis
4. Cerita dan pelukisan bersifat alegoris dan parabel
5. Perjuangan hak-hak asasi manusia
6. Kritik sosial terhadap alangan birokrat

b. Prosa dan Drama
Struktur Fisik
1. Melepaskan ciri konvensional, menggunakan pola sastra “absurd” dalam tema, alur, tokoh, maupun latar,
2. Menampakkan ciri latar kedaerahan “Warna local “

Struktur Tematik
1. Sosial, politik, kemiskinan
2. Kejiwaan
3. Mehifisik

3. Sastrawan angkatan 2000
Sutardji Calzoum Bachri merupakan penggagas puisi kontemporer atau puisi embling. Karyanya antara lain diterbitkan dalam bentuk kumpulan puisi, “ O “ (1973), Amuk (1977), Kapak (1979). Kumpulan-kumpulan puisi ini pada tahun 1981 diterbitkan dalam satu buku yang berjudul O Amuk Kapak.
Budi Darma, adalah seorang sastrawan yang aktif mengarang Roman, karyanya antara lain, Olenka (1983), Orang-orang Bloomington (1984), dan Rafilus (1988)
Putu Wijaya merupakan sastrawan yang banyak menghasilkan drama, walau juga menghasilkan novel dan cerpen. Karyanya antara lain, novel : Bila Malam Bertambah Malam (1971), Palorik(1976), Stasiun (1977), MS (1977), Tak Cukup Sedih (1977), Ratu (1977), Sah (1977), Keok (1978), Sobat (1981), Lho (1982), Nyali (1983), Pol (1987).
Dramanya antara lain : Lautan Bernyanyi (1967), Anu (1974), Aduh (1975), Dag Dig Dug (1976), Gerr (1986),. Kumpulan cerpennya Bom (1978)
Sastrawan lain yang terkenal ialah Iwan Simatupang dalam bidang novel, Ayu Utami yang terkenal lewat Novel Saman, Acep Zamzam Noor yang banyak menghasilkan cerpen dan puisi. Wiji Thukul yang terkenal dengan puisi-puisinya dll.

C. Perbandingan Sastra Angkatan 66 dan Angkatan 2000
Dari segi tema angkatan 66 lebih menekankan pada kritikan terhadap pemerintahan orde lama yang gagal dalam mensejahterakan rakyat Indonesia dan gagalnya pemerintahan menciptakan stabilitas keamanan didalam negeri sehingga banyak daerah yang memberontak.
Angkatan 2000 lebih menekankan kritikan terhadap demokrasi yang tidak berjalan dan hegemoni birokrat dalam setiap bidang serta ketidakmampuan pemerintahan orde baru dalam menciptakan stabilisasi ekonomi.
Dalam penggunaan bahasa pada angkatan 66 lebih sopan dan tidak menggunakan bahasa-bahasa yang bersifat sehari-hari (informal). Pada angkatan 2000 penggunaan bahasa lebih bebas dan menggunakan bahasa yang informal.
Dalam penciptaan karya sastra angkatan 66 lebih mudah dipahami karena masih memakai aturan-aturan yang ada dalam penciptaan karya sastra, sedang dalam angkatan 2000 karya sastra yang dihasilkan seolah mendobrak tradisi yang ada dan cenderung lebih bersifat kontemporer.

3. PENUTUP

Dari pembahasan diatas bisa diambil beberapa kesimpulan mengenai perbandingan karya sastra angkatan 66 dan karya sastra angkatan 2000, yaitu :
Puisi maupun drama yang dihasilkan sama-sama berisi kritikan terhadap pemerintah, dan puisi yang dihasilkan kebanyakan puisi demonstrasi. Taufik Ismail lebih condong menghasilkan dua buah jenis puisi yaitu puisi keagamaan dan puisi demonstrasi.
Kedua angkatan ini, sama-sama mengalami masa transisi antara pemerintahan orde lama ke pemerintahan reformasi. Puisi dan drama pada angkatan 2000 lebih banyak yang berjenis kontemporer. Isi puisi dan prosa angkatan 2000 berisi imajinasi yang sulit dipahami karena perencanaan tema, alur dan sebagainya absurd.

DAFTAR RUJUKAN

Luxemburg, Ja Van, dkk. 1991. Tentang Sastra. Jakarta : PT Intermasa.

Rampan, Korrie Layun. 2000. Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia. Jakarta : PT Grasindo.

Rani, Supratman Abdul. Yani Maryani. 2006. Intisari Sastra Indonesia. Bandung : CV Pustaka Setia.

Zadian, Abdul Rozak. Endy Sugono. 2003. Adakah Bangsa Dalam Sastra ? Jakarta : Progres dan Pusat Bahasa

About these ads